FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir bersama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Hongkong, Tri Tharyat berkomitmen untuk memberikan jaminan kepada dua orang komedian yang ditangkap di Hongkong beberapa pekan lalu yaitu Cak Yudo dan Cak Percil. Kedua komedian ditangkap karena menyalahgunakan penggunaan visa, mereka memakai visa turis tapi untuk bekerja melawak.

Persatuan Seniman Komedi Indonesia (PASKI) di Kemenlu pada Jumat, (9/2) meminta agar Kemenlu memperjuangkan nasib dua komedian tersebut di Hongkong.

Fachir mengapresiasi solidaritas, dukungan dan rasa simpati dari PASKI kepada dua komedian yang ditahan mulai dari 4 Februari 2017. Baginya, bentuk solidaritas ini semakin menegaskan komitmen Kemenlu untuk memberikan perlindungan secara hukum.

“Kami memberikan jaminan pendampingan hukum untuk mencari solusi yang sebaik-baiknya bagi kedua komedian,” kata Fachir, saat konferensi pers, Jumat, (9/2).

Ia juga menegaskan, ini harus menjadi pembelajaran bagi seluruh WNI yang ingin datang ke luar negeri untuk memastikan apakah visanya sesuai dengan tujuan.

“Mohon visanya disesuaikan, kita harus mengikuti ketentuan yang ada di negara yang menjadi tujuan. Kalau turis ya jadi turis, kalau ada kepentingan lain ya harus disesuaikan,” ujar Fachir.

Menurutnya, hal-hal tersebut ada implikasi hukumnya. Oleh karena itu semua warga harus patuh dengan peraturan yang sudah ada.

Selain wakil menteri, Konjen RI di Hongkong juga khusus didatangkan untuk menjelaskan permasalahan ini. Ia menyampaikan bahwa sampai saat ini staf disana masih melakukan pendampingan dan keduanya dalam kondisi sehat.

“Saya kemarin juga diberikan kelonggaran waktu untuk bertemu keduanya, masing-masing satu jam. Kami juga secara intens kontak denan keluarga mereka,” kata konjen RI di Hongkong, Tri Tharyat.

Untuk hukuman yang dijatuhkan, Tri Tharyat mengaku akan patuh dengan keputusan hakim disana. “Untuk kasus serupa, biasanya penjara maksimal dua tahun atau denda Rp 78 juta,” katanya.

Namun hingga saat ini belum pernah ada WNI yang dikenai hukuman maksimal dengan kasus serupa. (Fajar/JPC)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukan komentar
Masukan nama anda disini