HONG KONG, BI — Melihat atusiasme buruh migran Indonesia (BMI) di Hong Kong terhadap dunia fotografi yang luar biasa, Telin Hong Kong membentuk sebuah komunitas dan diberi nama Komunitas Fotografi AS2in1 (Kopi PanAs2in1). Komunitas yang berdiri sejak 2 bulan lalu ini merupakan wadah untuk BMI pecinta fotografi belajar membekali dan mengasah kreativitas, khususnya di bidang fotografi.

Keseriusan BMI terhadap ilmu fotografi nampak pada semangat mereka dalam menyimak dan praktik langsung memotret sesuai materi yang disampaikan oleh Bambang Irwanto, salah seorang volunter penggemar fotografi di Hong Kong, pada Minggu, (01/04/2018) di kantor Telin, Causeway Bay.

Bambang pada kesempatan tersebut di jadapan BMI membagikan ilmu tentang still life photography. Menurutnya,  itu salah satu genre di dunia fotografi yang dipakai untuk menangkap objek atau subjek foto benda mati yang ukurannya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, dan menjadikan makanan atau foto produk lainnya sebagai salah satu aplikasi dari pelajaran tersebut.

“Pada genre foto ini, kita dapat dengan leluasa mengatur subjek atau objek foto, serta pencahayaannya untuk mendapatkan hasil yang maksimal sesuai peralatan yang kita pakai,” ungkap Bambang.

Kepada Berita Indonesia, Bambang juga mengungkapkan, dipilihnya still life photography karena ia dan Andi Andreas telah mengamati sebagian besar BMI menyukai dan sering berbagi foto makanan dan produk tertentu di media sosial.

“Ada yang memang tidak berkaitan dengan bisnis sampingan, tetapi ada juga yang memang bertujuan atau berkaitan dengan bisnis online masing-masing. Banyak foto yang saya lihat hasilnya bagus, namun tidak kurang juga yang hasilnya kurang memadai, apalagi foto itu dibagikan untuk keperluan bisnis online nya,” tuturnya.

Lebih lanjut, terkait cara memotret jenis ini, Bambang juga menyampaikan poin-poin penting yang perlu diperhatikan. Menurutnya yang pertama adalah mengatur komposisi agar objek atau subjek foto yang tampil di dalam frame terlihat menarik.

“Yang kedua, pastikan objek atau subjek foto mendapat cahaya yang cukup. Nggak terlalu kuat tapi juga nggak terlalu redup. Hal ini bisa dilakukan dengan beberapa kali pengambilan gambar dengan posisi benda-benda tetap, tetapi cahaya yang kita rubah sampai dapat yang cocok,” ungkapnya.

Yang ketiga, lanjut Bambang, memastikan benda-benda yang mengkilap tidak ada sidik jari atau hal lain yang mengganggu penampilannya saat difoto. Menurutnya, tidak lucu kalau memotret sendok, garpu dan pisau ternyata ada banyak sidik jari atau ada kerak bekas nasi di sendoknya. Dan untuk menyiasati hal ini, Bambang menyarankan menggunakan kertas karton warna hitam.

“Kerta karton hitam bisa dipakai untuk memberikan efek daerah shadow pada benda-benda mengkilap. Khusus foto makanan, gunakan perlengkapan yang ada sendok, garpu dan atur sedemikian rupa agar menjadi pelengkap yang sempurna untuk foto makanan kita,” paparnya panjang lebar.

Selain membeberkan ilmu tentang still life Photography, Bambang juga berpesan untuk BMI yang belajar menggeluti fotografi untuk jangan pernah bosan memotret dan melihat foto-foto bagus di media sosial.

“Lihat, atau perkirakan dari arah mana sumber cahayanya, perlengkapan apa saja yang dipakai dan lain-lain. Sering melihat foto-foto bagus akan memberi kita ide saat kita mau memotret makanan kita sendiri,” pesannya.

“Karena, still photography sangat berguna buat teman-teman yang memiliki bisnis, khususnya bisnis online. Mengapa? Karena foto still life (produk atau makanan) yang bagus adalah foto yg bisa memancing kita untuk membeli produk yang kita tawarkan atau berhasil memancing rasa penasaran untuk mencicipi makanan yang fotonya kita bagikan,” ungkapnya.

“Kalau bisnis online kita adalah ayam penyet lalu foto yang ayam penyet yang kita bagikan ternyata lalapannya sudah tampak layu dan tempe goreng yang menjadi pendamping ayamnya terlihat sedikit gosong, maka berapa banyakkah orang yang tertarik untuk order makanan yang kita tawarkan tersebut? Saya yakin tidak akan banyak deh,” pungkas Bambang.

Sementara itu Sri Kinanti, BMI Hong Kong asal Tuban, Jawa Timur, ini mengaku senang telah bergabung dan bisa belajar bersama di Kopi PanAs2in1.

“Saya sangat senang sekali, selain bertambahnya teman-teman baru, tetapi pengalaman baru juga. Terutama tentang fotografi, dari bagaimana cara mengambil angel foto, sampai penataan cahaya,” tutur Sri Kinanti.

“Semoga saja banyak ilmu yang saya dapatkan, entah itu dari guru pembimbing, bahkan dari teman-teman komunitas Kopi PanAs2in1. Ya, siapa tahu ilmu tersebut bisa saya gunakan setelah menjadi BMI purna nantinya untuk membuka usaha jasa photografer suatu event. Entah itu acara nikah atau acara acara lainya,” tutup Sri mengakhiri pembicaraan. (Wijiati Supari)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukan komentar
Masukan nama anda disini