HONG KONG, BI — Sekitar 40 orang buruh migran Indonesia (BMI) di Hong Kong mengikuti pembelajaran Guru Bahasa Inggris untuk anak-anak PAUD yang diadakan oleh SAGARA di Taman Kecil Dekat Perpusatakaan Causeway Bay pada Kamis, 5 April 2018.

Pembelajaran yang dimulai dari pukul 10 pagi hingga 4 sore ini dipimpin langsung oleh Pemilik Lembaga SAGARA, Ustaz Bahrun Mubarok dari Jakarta, dan Dian Wulandari, pengurus SAGARA Blue Ocean Hong Kong.

Dalam kesempatan ini Ustaz Bahrun menyampaikan bagaimana metode mengajar kepada anak-anak TK yang harus dipahami dan dipelajari peserta. Metodenya harus menyenangkan dan sesuai dengan karakter anak-anak.

“Ada beberapa macam style anak, yaitu visual, auditori, dan kinestetik. Visual berarti mudah menerima pelajaran dari apa yang di lihat. Auditori mudah menerima pelajaran dari apa yang di dengar, kemudian Kinestetik, mudah menyerap pelajaran dari apa yang dilakukan,” katanya.

Sementara itu, Pengurus SAGARA Blue Ocean Hong Kong, Dian Wulandari, menyampaikan, “Kami ada dua program, yaitu pertama adalah TTP (Teaching Training Program) dan kedua adalah Blue Ocean Program.”

Dijelaskan Dian, TTP adalah program belajar dan praktik untuk mengajar anak-anak agar mudah memahami bahasa Inggris. Teknik belajar bahasa Inggris yang mudah dan menyenangkan untuk anak-anak ini belum populer karena biasanya belajar bahasa Inggris hanya untuk orang dewasa.

Sedangkan Blue Ocean Program, kata Dian, adalah tempat bagi para BMI untuk lebih mendalami  grammar bahasa Inggris, menulis dan pengucapannya secara baik dan benar.

“Rata-rata BMI belajar bahasa Inggris ini karena ingin berkomunikasi dengan majikan menggunakan bahasa inggris yang baik dan benar. Kemudian, kebanyakan BMI itu jaga anak-anak dan secara otomatis mereka juga belajar menyanyi lagu-lagu berbahasa Inggris di sini setiap Minggunya. Banyak juga lulusan SAGARA yang kini sudah menjadi pengajar di PAUD sebagai guru Bahasa Inggris di Tanah Air dan ada juga yang buka bimbingan belajar,” terang Dian.

Dian menambahkan, menjadi buruh migran itu adalah keterpaksaan. Akan tetapi, menjadi buruh migran purna yang mandiri dan profesional itu ada di genggaman tangan kita sendiri. Jadi, ajak Dian, ciptakan mimpi kita dan action mulai hari ini untuk kita wujudkan di Tanah Air.

“Manfaatkan libur kita untuk belajar karena kunci sukses adalah dengan ilmu. KTK adalah logo kami, yaitu Konsisten Tebar Kebaikan. Walaupun kita BMI, kita bisa menjadi bagian dari mencerdaskan anak bangsa,” pungkasnya. (Tati Tia Surati)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukan komentar
Masukan nama anda disini