Pendukung Gerindra Harapkan PPLN Hong Kong Tak Berpihak

0
150

HONG KONG, BI — Untuk menyukseskan penyelenggaraan Pemilu 2019, KJRI Hong Kong telah melantik tujuh anggota Panitia Pemilu Luar Negeri (PPLN) Hong Kong dan tiga anggota Sekretariat PPLN Hong Kong, di Causeway Bay, Senin (26/3/2018) lalu. Pelantikan dilakukan langsung oleh Konjen Tri Tharyat.

Terkait dengan keberadaan PPLN Hong Kong tersebut, Koordinator Komunitas Pendukung Partai Girindra di Hong Kong, Bustomi, menyampaikan harapannya. Dia menyampaikan harapannya dengan cukup singkat, padat, tetapi maknanya sangat luas.

Apa harapan Bustomi kepada PPLN yang baru dilantik KJRI Hong Kong? Dia berharap PPLN menepati janjinya untuk menjalankan tugas sesuai aturan dan asas pemilu.

“Sebenarnya tak begitu optimis. Jujur dan tidak berpihak, itu saja!” ujar Bustomi kepada Berita Indonesia, Sabtu (31/3).

BMI Hong Kong asal Jombang, Jawa Timur, itu menyampaikan harapannya dengan nada yang tidak begitu yakin.

Dia berkaca pada pemilu 2014 lalu. Menilik pengalaman pemilu 2014, Bustomi tak berani berharap banyak akan realisasi dari kata adil, jujur, dan tidak berpihak itu.

Pemilu memang baru akan berlangsung pada Juni 2019, tetapi butuh persiapan dini karena tugas penyelenggar tidak mudah. Sebab, adanya 150.000 BMI yang ada di wilayah akreditasi KJRI Hong Kong.

Berita Indonesia sempat menanyakan secara acak kepada puluhan BMI saat liburan, Minggu (1/4). Mayoritas, mereka akan menggunakan hak suaranya dengan baik. Mereka juga mengungkapkan tak akan lagi mudah percaya dengan medsos dan portal hoax yang hanya bertujuan untuk mendulang suara sebanyak mungkin.

Banyak BMI merasa kapok mempercayai janji-janji gombal wakil rakyatnya. Bahkan, dengan berapi-api, seorang BMI berinisial S (enggan disebut namanya, Red) dan berparas keibuan, menyesalkan sikap pemerintah yang dia nilai saat ini tak bisa memenuhi janji.

Dengan mata berkaca-kaca, S menuturkan betapa beratnya biaya sekolah anak-anaknya, sementara kebutuhan sembako terus naik. Hasil pertanian suaminya juga tak sepadan dengan harga pupuk. Masih banyak lagi yang dikeluhkan ibu 40-an tahun ini.

Hal senada dengan S diungkapkan juga oleh Bustomi. Kata dia, keluarga dan kawan-kawannya yang tinggal di Indonesia juga menghadapi fenomena yang tak jauh beda dengan apa yang diungkapkan S.

 

BMI Harus Belajar Politik

BMI tak bisa mengelak dari dunia politik. BMI tidak bisa menghindari imbas kampanye. Tidak hanya di medsos, juga sewaktu libur, saat belanja, momong anak asuh, ataupun sekadar kebetulan berpapasan di jalan. Para BMI pun terlibat pembicaraan seputar pemilu.

Berdasarkan hal itu, Bustomi berpendapat bahwa BMI juga harus belajar tentang politik. Bila tahu betapa dunia politik tak seindah teori, Bustomi yakin BMI tak akan mudah menjadi korban media Hoax. (Argy Fs)

         

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukan komentar
Masukan nama anda disini