HONG KONG, BI — Lembaga Nirlaba Enrich didirikan pada 2007 oleh seorang wanita bernama Sophie. Wanita asal Perancis yang peduli dengan buruh migran ini juga pemilik learning centre dan aandbmake3.com.

Sophie menciptakan konsep pendidikan Ilmu Pengelolaan Keuangan yang ia rasa cocok untuk membantu para buruh migran. Maka didirikanlah Enrich yang berkantor pusat di 1102, Enterprise Building, 228-238 Queen’s Rd, Central, Hong Kong.

Mulanya, Sophie merasa prihatin dengan fenomena di kalangan buruh migran di Hong Kong yang memperlihatkan bahwa banyak buruh migran kurang mampu mengelola keuangannya dengan baik.

Di Hong Kong, walau buruh migran diupah hanya sesuai dengan standar minimum, upah tersebut lebih tinggi dari gaji pegawai negeri tingkat menengah di negeri asalnya.  Namun, upah tersebut ternyata tetap saja tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sang buruh migran dan keluarganya. Naifnya, justru banyak buruh migran kesandung masalah utang. Padahal, keberangkatan mereka ke negara penempatan karena alasan ekonomi dan untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.

Enrich dengan konsep pendidikan pengelolaan uangnya didirikan Sophie untuk membantu para buruh migran supaya bisa lebih baik dalam mengelola keuangannya.

Enrich berusaha membantu para buruh migran dalam mengelola gajinya agar tujuan utamanya untuk memperbaiki ekonomi keluarganya bisa tercapai dan bisa segera berkumpul dengan keluarga dan membangun masa depan yang lebih baik.

Ketika didirikan pada 2007, Enrich hanya memberikan ilmu pengelolaan keuangan kepada buruh migran Filipina di Hong Kong. Baru sejak 2015 lembaga nirlaba ini juga mengajarkan ilmu tersebut kepada buruh migran Indonesia (BMI).

Mengenai pembiayaan, pihak Enrich ditopang oleh donatur raksasa perusahaan finansial berbasis internasional, JP Morgan dan KPMG. Ada juga para majikan (warga Eropa) yang memberikan beasiswa kepada pekerjanya. Sebagai donatur mereka akan membayar lebih.

 

Relawan

Dalam acara wisuda pada Minggu (18/3) di aula lantai 4, Meng Wah Complex, The University of Hong Kong (HKU), Ketua Dewan Enrich, Daisy Tam, menjelaskan bahwa materi pengelolaan keuangan disampaikan oleh para relawan Enrich.

Sylvia S. Putra, pengurus program Enrich bagian Indonesia, menjelaskan, untuk sesi mentoring atau pelatihan bimbingan dilaksanakan secara face to face kepada peserta Filipina. Maksudnya, satu trainer (berbahasa Inggris) membimbing satu peserta. Dengan begitu, peserta dapat mendiskusikan permasalahan yang menghambatnya dalam menerapkan ilmu perencanaan keuangan yang sesuai dengan tujuan (jangka pendek, menengah, dan panjang).

Namun, menurut Sylvia, bimbingan secara face to face itu sulit direalisasikan pada peserta Indonesia. Sebab, pihak Enrich kesulitan mencari relawan pembimbing Indonesia. Terpaksa, satu pembimbing menangani 3-4 peserta.

Kendalanya adalah bahasa pengantar bagi BMI adalah bahasa Indonesia. Sementara itu, relawan Enrich tidak banyak yang bisa berbahasa Indonesia karena mayoritas adalah pegawai JP. Morgan (Eropa) yang berbahasa Inggris.

Di Hong Kong sebenarnya cukup banyak WNI non-BMI yang fasih berbahasa Indonesia. Namun, diakui Sylvia, sedikit sekali WNI non-BMI yang bersedia menjadi relawan (pembimbing Enrich). Dengan demikian, Enrich cukup terkendala dalam membantu buruh migran asal Indonesia. Untuk buruh migran asal Filipina umumnya tidak terkendala bahasa karena rata-rata mahir berbahasa Inggris.

Sementara 3 tahun ini, pihak Enrich merekrut relawan dari pegawai Cathay Pasific, anggota PPI dan WNI yang menikah dengan warga lokal. Sylvia S Putra sendiri, misalnya. Ia adalah programmer Enrich yang juga mantan pramugari Cathay Pasific. (Argy Fs)

        

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukan komentar
Masukan nama anda disini