Donor Darah Para BMI Hong Kong

0
91

Lewat Donor Darah, BMI Angkat Citra Indonesia

CAUSEWAY BAY, BI — Antusias buruh migran Indonesia (BMI) di Hong Kong dalam melakukan kegiatan mulia donor darah patut diacungi jempol. Hal itu antara lain tampak di Pusat Donor Darah Causeway Bay Donor Centre pada Minggu (1/4).

Pusat donor darah yang berlokasi di lantai 14, Plaza 2000, Causeway Bay, Hong Kong, tersebut hari itu dibuka pukul 11 pagi hingga 8 malam. Lebih dari 60 calon pendonor antre, 50 orang di antaranya adalah BMI Hong Kong. Donor darah minggu itu berlangsung tertib.

Calon pendonor darah wajib mengisi biodata, riwayat kesehatan, dan memberitahukan perjalanan ke luarnya dari Hong Kong dalam kurun waktu dekat, (bila ada).

Untuk memenuhi persyaratan, mereka rela berjubel dalam antrean menunggu tes hemoglobin darah, berat badan, suhu tubuh, detak jantung, dan interview singkat demi mengetahui lolos atau tidaknya menjadi pendonor.

Hemoglobin darah tidak boleh kurang dari 11, 5g/dl. Secara normal, rentang sel darah merah yang harus dimiliki adalah 11, 5 g/dl – 16, 5 g/dl (perempuan), dan 13 g/dl – 18 g/dl (laki-laki).

Berbahagialah mereka yang dinyatakan normal dan bisa mendonorkan darahnya. Sebaliknya, raut wajah kecewa akan terukir pada mereka yang dinyatakan tidak memenuhi syaratnya, seperti yang dialami Anna, BMI asal Jawa Tengah. Sebelumnya, Anna pernah menjadi pendonor darah, tetapi karena hari itu hemoglobin darahnya hanya 11, 1 g/dl, dia tidak lolos.

 

Gubrak Sosial Hong Kong

Komunitas BMI yang aktif mendukung kegiatan sosial dan mendominasi antrean donor darah hari itu adalah Gubrak, yang lengkapnya adalah Gubrak Sosial Hong Kong (GSH).

Komuitas BMI peduli sosial ini rutin menyumbangkan darahnya. Hingga detik ini, Gubrak yang baru 3 tahun berdiri, telah mengikuti donor darah ke-10.

Gubrak adalah salah satu komunitas BMI di Hong Kong, yang mengkoordinasi calon pendonor darah.

Savina Viena (Vina), koordinator Gubrak, sudah aktif donor darah sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Ia kini bahkan telah memiliki jadwal khusus donor darah. Kiprahnya itu menjadi motivasi tersendiri bagi kawan-kawannya.

Awalnya tak mudah bagi Vina mengajak kawan-kawannya berdonor darah. Vina melalui medsos maupun secara langsung terus berusaha meyakinkan manfaat donor darah kepada para BMI. Maka, komunitasnya pun antusias mendukungnya.

Semula banyak yang malas antre berjam-jam untuk donor darah, takut jarum suntik, dan sejumlah alasan lain. Kini, tak lagi menjadi kendala. Mereka merasa donor darah merupakan kegiatan amal yang paling murah.

 

Apresiasi buat BMI

Antusiasme BMI dalam mendonorkan darahnya pun mendapat apresiasi dari Pusat Donor Darah Causeway Bay Donor Centre. Salah satu staf pengambil sample darah di pusat donor darah tersebut mengacungi jempol untuk para BMI.

Staf tersebut mengatakan bahwa semangat BMI itu melebihi kepedulian penduduk Hong Kong sendiri.

“Para Domestic helper memang sering datang untuk berdonor, terutama pada Minggu. Bahkan, mereka lebih antusias bila dibandingkan dengan warga lokal,” ujar staf wanita yang bertugas mengambil sampel darah tersebut kepada Berita Indonesia, di ruang pengambilan sampel darah, Pusat Donor Darah Causeway Bay Donor Centre, Causeway Bay (1/4/2018).

Lebih lanjut, staf yang tak ingin diekspos namanya itu memberikan pendapatnya. Menurut dia, faktor budaya diduga turut menjadi pengaruh jiwa sosial. Dia memandang BMI memiliki jiwa sosial yang tinggi untuk peduli sesama.

Menurutnya, itu semua karena budaya Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, saling membantu antar sesama.

Apa yang diutarakan oleh staf pusat donor darah itu, memang bisa dilihat dari wajah-wajah ceria BMI yang sedang antre untuk diambil darahnya. Walau harus berjubel berjam-jam, mereka sabar menunggu giliran, karena mereka menyadari manfaat donor darah. Harapannya, dengan uluran darah mereka, mereka dapat menolong nyawa orang lain kendati mereka tak mengenal orang yang ditolong itu.

Bahkan, tak hanya apresiasi dari suster pengambil darah sempel, dukungan dari majikan pun mereka dapatkan dalam berpartisipasi menyukseskan program donor darah. Mereka paham akan manfaatnya yang bukan hanya bagi penerima, tetapi bagus juga untuk kesehatan diri sendiri.

Salah satu BMI yang sudah merasakan manfaat donor darah adalah Zee. BMI yang sudah 5 tahun di Hong Kong ini menyatakan bahwa sejak dia turut berdonor darah, badannya terasa lebih sehat. Walau gemuk, raganya terasa sehat. Majikannya bahkan sangat mendukungnya. Zee sering diingatkan majikannya jika jadwal donor darah selanjutnya tiba.

“Berbagi itu bukan cuma dengan harta, tapi juga dengan hati. Seperti donor darah, meskipun mereka (penerima, Red) tidak tahu siapa kita,” ujar Zee yang berada dalam barisan antre donor darah, Plaza 2000 (1/4/2018), kepada Berita Indonesia. (Argy. Fs/Eni Ika)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukan komentar
Masukan nama anda disini