Umat Hindu Merayakan dengan Perbaikan Diri

HONG KONG, BI — Tahun 2018 ini menjadi tahun istimewa bagi umat Hindu. Sebab, Hari Raya Nyepi dan Saraswati diperingati di hari yang sama, yaitu Sabtu (17/03). Dalam pelaksanaannya, kedua peringatan dilakukan bersamaan, tetapi tidak melanggar ketentuan Catur Brata Penyepian.

Berada jauh dari Tanah Air tidak menyurutkan semangat dan khusyuknya buruh migran Indonesia (BMI) Hindu di Hong Kong memperingati Nyepi dan Saraswati. Itulah yang tampak pada peringatan bersama Wanita Hindu Dharma Nusantara (WHDN) di Hong Kong.

“Hari Saraswati adalah hari yang sangat penting, karena apa? Karena di Hari Saraswati, Aji Sang Hyang Saraswati itu menurunkan ilmu dari kahyangan, bukan untuk umat Hindu saja, tetapi untuk seluruh umat di bumi,” ungkap Dian, wakil WHDN Hong Kong.

Anugerah yang diturunkan Dewi Saraswati itu sangat penting, menurut BMI asal Blitar, Jawa Timur, ini.

“Anugerah yang diturunkan Dewi Saraswati itu sangat penting. Karena manusia tanpa ilmu pengetahuan itu tidak bisa apa-apa. Intinya dari Saraswati itu semoga manusia bisa menyerap ilmu pengetahuan yang positif,” terang Dian.

Lebih lanjut, Dian mengungkapkan, Hari Raya Nyepi tidak dirayakan dengan meriah dan ramai, tetapi dilakukan dengan menyepi selama satu hari satu malam. Tidak hanya puasa saja, tidak makan dan tidak minum, tetapi juga kita bisa menahan diri.

“Namanya menyepi, itu dari kata sepi atau hening, dan hening itu adalah sunyi. Jadi di dalam penyepian itu merenungkan diri apa yang pernah kita lakukan, dosa apa yang pernah kita lakukan, perbuatan apa yang pernah kita lakukan, karena manusia tidak ada yang sempurna. Semua manusia pasti banyak salah dan dosa,” tutur Dian.

Untuk itu, lanjut Dian, umat Hindu di saat merayakan Hari Raya Nyepi itu berpuasa tidak hanya menahan lapar, tetapi lebih ke bagaimana bisa mengoreksi diri.

“Jadi di dalam hati kita bertanya pada diri sendiri, apa sih dosa yang pernah kita lakukan, dan meminta pengampunan. Karena kalau dosa itu tidak bisa dihapus, tetapi Tuhan bisa mengampuni,” ungkapnya.

Menurut Dian, bertanya pada diri sendiri itu perlu. Saya itu siapa? Saya hidup untuk apa? Dan, nanti saya mau ke mana?

Untuk menemukan jawabannya, kata Dian, kita perlu bertanya saya itu siapa? Saya adalah mahkluk ciptaan Tuhan, yang berakal, dan makhluk yang paling sempurna daripada mahkluk yang lain.

“Dan sekali lagi, inti dari Hari Raya Nyepi itu adalah sangat mulia, karena untuk keseimbangan alam, untuk keharmonisan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesama, supaya kehidupan kita bisa harmonis. Karena bagaimanapun kita itu sebenarnya sama, kita ini adalah saudara,” tutur Dian.

Di ujung perbincangan bersama Berita Indonesia, Dian menceritakan perjuangan BMI Hong Kong yang beragama Hindu ketika merayakan Hari Raya Nyepi.

“Kita tidak bisa menyepi selama satu hari satu malam, tidak bisa tidak melakukan aktivitas apa pun, itu tidak mungkin  karena kita di sini ikut orang. Sementara itu kita tidak ada alasan untuk tidak bisa melakukan (menyepi),” ungkapnya.

Dian melanjutkan, “Sebenarnya di sini yang utama adalah telepon genggam. Itu mampu membuat kita mengetahui dunia luar. Yang kedua, menurut saya, adalah harus mampu mengendalikan diri apabila majikan yang marah-marah. Ya, kalau ada salah, segera minta maaf. Pokoknya yang positif saja. Dan di dalam kerja kita bisa melantunkan kidung-kidung untuk pikiran-pikiran negatif,” pungkas Dian. (Wijiati Supari)

                     

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukan komentar
Masukan nama anda disini