Ada Suka, Duka, Sandal Ilang, dan Peyek Semaput

HONG KONG, BI — Minggu, 1 April 2018, adalah hari yang menyenangkan untuk berlibur dan bertemu dengan sahabat-sahabat tercinta. Libur kali ini aku memilih untuk bergabung dengan teman satu organisasi di Anggun Cinta Perdana (ACP).

Anggun Cipta Perdana mengadakan kegiatan kunjungan ke empat shelter buruh migran Indonesia (BMI) di Hong Kong. Shelter adalah tempat penampungan sementara bagi BMI yang sedang mengalami masalah.

Empat Shelter tersebut adalah Shelter Dompet Dhuafa Hong Kong di Causeway Bay dan Shelter Islamic Union di Wan Chai. Dua shelter lainnya adalah Shelter Al Istikomah dan Bethune house di Jordan.

Ejah, salah satu pengurus ACP, mengatakan, kunjungan ini bertutujuan untuk menjalin silahturahim sesama BMI Hong Kong dan berbagi bahagia bersama sahabat shelter.

“Dalam kunjungan ini kami juga membagikan sembako dan kebutuhan lainnya karena mereka para sahabat shelter yang mengalami masalah pasti membutuhkan itu, apalagi mereka tidak bekerja, sehingga tidak ada pemasukan dana untuk membeli kebutuhan mereka sendiri,” ujar Ejah.

Tak hanya hanya berbagi rezeki. Menurut Ejah, pihaknya juga banyak mendengarkan kisah sahabat shelter.

“Kami men-support agar mereka tidak merasa sendirian saat menghadapi masalah-masalah dengan majikan, agen maupun mereka yang menghadapi kasus persidangan untuk menuntut hak-hak mereka,” katanya.

Di Shelter Dompet Dhuafa, kami disambut baik oleh dua relawan Dompet Dhuafa, Neni Anisah dan Pujiyanti, serta istri general manager DDHK, Retno Astuti. Tak hanya menyambut baik teman-teman ACP, mereka juga mengajak bermitra dakwah dengan Dompet Dhuafa. Kami juga diajak sharing tentang ilmu wirausaha dan berbagi kisah tentang keadaan di Hong Kong.

Menurut Neni Anisah, di Shelter DD hanya ada dua BMI Hong Kong yang menginap. Yang satu diinterminit dan satunya lagi sedang menunggu visa majikan.

“Kalau dulu di DD ada LPAM (Lembaga Pelayanan Advokasi Migran), itu tugasnya untuk membantu mengadvokasi teman-teman BMI yang membutuhkan bantuan dan biasanya Shelter DD bisa penuh. Kemudian ada juga Migran Institute, tempat belajar kemandirian melalui skill menjahit dan tata rias. Untuk Ramadan tahun ini DD juga ada kegiatan Tarhib dan pawai Ramadhan, lalu ada juga buka bersama dan acaranya terbuka untuk umum. Jadi mari gabung bersama untuk pererat silahturahim, toh tujuannya sama dakwah, untuk tebar kebaikan,” ujar Neni Anisah.

Dari Shelter DD, kami berjalan kaki menuju Shelter Islamic Union di Wan Chai. Di shelter ini, ACP mendengarkan kisah penghuni shelter, kemudian menyerahkan sembako dan foto bersama.

Setelah itu, rombongan ACP pamitan dari Shelter Islamic Union dan mencari bus menuju ke Jordan. Niat awalnya mau ke Shelter Bethune House terlebih dahulu, tetapi karena tidak hafal jalan, akhirnya kami putuskan untuk menuju masjid untuk salat Ashar berjamaah, sekaligus silahturahim dengan pimpinan Majelis Al Istikomah.

Setelah Salat berjamaah, kami bertemu langsung dengan perwakilan dari Majelis Al Istikomah. Kami dari ACP mereka  sambut hangat dan disuguhi kue-kue tradisonal yang enak dan lezat serta aneka minuman kotak berbagai rasa. Kata mereka, tamu itu harus dimuliakan sesuai dengan ajaran agama Islam.

Perwakilan dari Al Istikomah berbincang-bincang langsung dengan teman-teman ACP terkait keadaan shelter dan penghuninya, bahkan sampai bercerita tentang asal-usul keorganisasian  Al Istikomah yang memiliki legalitas pada tahun 2005.

Sudah sangat sore, teman-teman ACP pun berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ke Jordan guna mengunjungi shelter Bethune house.

Sebelum melanjutkan perjalanan, teman-teman ACP mejadi repot karena aku, karena ternyata sandalku tidak ada di pelataran masjid.

Entahlah. Mungkin sandalku raib dibawa orang. Sebab, sudah dicari ke mana-mana tidak ketemu. Akhirnya aku meminjam sandal masjid untuk melanjutkan perjalanan sampai ke Shelter Bethune House.

Begitu sampai di Shelter Bethune House, kami hanya bertemu dengan teman-teman shelter asal Filipina. Kata Ate (panggilan ‘mbak’ dalam bahasa Tagalog), teman-teman asal Indonesia belum pada pulang. “Mungkin lagi sibuk di luar karena ini kan Minggu, jadi banyak kegiatan,” kata Ate.

Karena tidak bisa berbincang-bincang mengenai keadaan shelter, kami pun pamitan setelah serah-terima sembako dan foto bersama.

“Alhamdulillah, legane rek, wes rampung. Semoga kegiatan kita berkah dan bermanfaat buat sahabat-sahabat shelter. Ayoklah kita cari tempat buat istirahat, salat dan makan. Mungkin kita cari taman untuk istirahat sejenak sebelum pulang. Tidak perlu beli makanan, kita makan seadanya aja, insyaallah cukup. Biar pulangnya tidak berat bekal harus habis,” kata Yan Morris, salah satu anggota ACP yang menggagas acara hari ini.

Setelah salat, kami pun makan bersama-sama di dekat Playground Kowloon Bowling Center Club. Sambil makan, kami bersendau gurau gara-gara sandal yang hilang dan makanan yang melempem. Makanan yang melempem bisa jadi ide bisnis dengan Merk “Peyek Semaput”. Ide bisnis yang unik, bukan? Salam sukses. (Tati Tia Surati)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukan komentar
Masukan nama anda disini