Robot

Cerpen Aliq Nurmawati

Perempuan mana pun yang didarati kedua bola matanya pasti akan meleleh. Tapi belum tentu seribu wanita yang di depannya akan mendapatkan hal itu. Karena dia, alergi dengan lawan jenis. Tahukah kamu siapa dia? Dialah seseorang yang telah hidup delapan tahun bersamaku. Yang juga telah menandatangani kertas dari KUA itu. Ia juga yang selama ini telah mencukupi kebutuhan hidupku.

Aku dengannya telah dikaruniai  buah hati. Tapi, seingatku kami tidak pernah tidur seranjang. Dari mulai menikah hingga tahun ke delapan ini. Jika ada yang bertanya bagaimana aku bisa hamil? Ya, karena aku perempuan. Dan memang bukan dia ayah dari anakku ini. Aku tahu, dia juga tahu. Kami sama-sama tahu. Tapi aku tidak pernah menduga bahwa dia akan memperlakukanku seperti ini.

Dulu, sebelum kami menikah. Aku adalah sahabat pacarnya. Tapi memang aku sudah menaruh hati padanya. Walau dia tidak pernah mau tahu, dan juga tak akan pernah kuberitahu.  Kupikir hubungan mereka akan sampai ke pelaminan, tapi ternyata takdir berkata lain. Sahabatku itu telah pergi bersama pria pilihan hatinya. Dia tak lain adalah pacarku sendiri.

Padahal kala itu, pacarku telah menitipkan benih di rahimku. Aku baru tahu setelah dokter memberikan ucapan selamat kepadaku. Atas benih yang telah menjadi janin di perutku.

Aku hanya bisa pingsan. Mau menuntut pertanggung jawabannya, itu sangat tidak mungkin. Karena semua ini bukan utuh kesalahannya. Dan proses benih ini, dulu, kami lakukan atas dasar cinta.

Lalu kejadian itu kuceritakan pada pria yang sekarang menjadi suamiku. Karena aku tahu, dia adalah satu-satunya orang yang akan paham dengan apa yang aku rasakan waktu itu.

Tanpa aku bicara dua kali. Ia pun telah siap menjadi ayah dari bayi yang tak berdosa ini.  Tapi, dengan syarat:

“Jangan sampai kau beritahu dia bahwa anak ini adalah benih dari mantan pacarmu. Percayalah aku akan mencukupi semua kebutuhan kalian.”

Aku pun paham niatnya. Dia hanya tidak mau melihat mantan kekasihnya itu terluka atas kejadian ini.

***

 

Ia tidak pernah betah di rumah, demikian pun aku.

Mata kami hanya akan saling bertukar pandang saat aku sedang memberikan botol susu pada anakku yang sedang dipangkunya. Itu pun dalam hitungan detik.

Aku tidak pernah memasak untuknya. Dia juga tidak butuh masakan dari kedua tanganku ini. Ia lebih memilih makan di luaran bersama teman-temannya daripada di rumah bersamaku.

Melihatku baginya adalah siksa. Karena aku yakin bahwa dengan adanya aku di matanya, pasti masa lalu itu kembali mengiris hatinya.

Kami tak lebih dari dua buah robot yang dipersatukan untuk mengasuh bocah ini. Dituntut untuk menyayanginya, menafkahinya, dan memenuhi semua kebutuhannya. Senyum-senyum kecil itu hanya akan  muncul di celah-celah kebersamaan  si buah hati ini saja. Sisanya hanyalah kepingan muka yang terlipat dan membeku.

Kami tidak kenal apa itu marah, apa itu cemburu. Bahagia itu apa? Kami tidak pernah mengalaminya. Aku punya dunia sendiri, begitu pun dengannya.

Tapi akhir-akhir ini, aku sering melihatnya jauh berbeda dari hari sebelumnya. Dia jadi sering sibuk dengan HP-nya, dan sering juga tersenyum bahagia tiap kali menatap layar android itu.

Pikiranku jadi mulai terjangkiti virus prasangka kepadanya.

Mungkinkah dia jatuh cinta lagi? Ah, tidak mungkin! Dia kan alergi sama lawan jenis?

Semua pertanyaan yang muncul di benakku kujawabi sendiri. Tapi rasa curiga ini masih tetap bercokol di dada.

Bibir ini ingin sekali melontarkan kalimat selidik, tapi nyali semakin kerdil. Aku ini siapanya? Dia itu siapaku? Bukankah selama ini kita bisu? Tuli? Toh, meski demikian, kita tidak pernah bertengkar.  Apalagi berpisah.

Aku masih yakin dia itu alergi lawan jenis. Aku mencoba tak berpakaian di depannya saja, dia malah lari sembunyi seperti sedang melihat hantu.

***

 

Detik berubah menit, siang pun dijemput malam. Yang tersisa hanya gelap dan sepi. Sunyi menghampiriku. Kucoba menatap langit, yang tersisa hanya kerlip bintang nun jauh di sana.

Kudengar suara. Kukira suara televisi di kamar sebelah, ternyata telingaku salah. Itu suara lelaki yang kusebut suamiku itu. Dia sedang bersenda gurau dengan layar androidnya. Dia begitu bahagia hingga lupa kalau di kamar sebelahnya ada aku. Aku yang sedang menidurkan anakku.

Tak terasa hati ini teriris perih, apa ini rasanya cemburu? Pasti bukan! Ini hanya salah paham.

Lagi-lagi aku penasaran, ingin sekali mengintip apa yang sedang dia bicarakan. Dengan siapa? Laki-laki atau perempuan?

Penasaranku masih kalah lagi dengan kebiasaanku. Yang selalu percaya bahwa dia alergi dengan lawan jenis.

Besok paginya, ponsel itu tergeletak di atas meja sebelah sofa lusuh, yang tersulap menjadi ranjang tidurnya. Nada dering mengalun lembut dari mulut layar android itu. Terpampang jelas foto profil seorang gadis berambut pirang sebahu, dengan bulu mata lentik, berhidung bangir, dan berparas sangat menarik.

Yang bergetar benda kecil di atas meja itu, tapi kenapa seluruh tubuhku ikut gemetaran dan panas dingin? Tangan ini tidak sabar ingin mencomotnya dan mengobok-obok isi ponsel itu. Apalah daya diri tetap tak berani.

Hingga ponsel itu berdering untuk yang kelima kalinya. Kesabaranku jebol. Kuraih HP yang bukan milikku. Kubaca tiap huruf pesan yang ada di dalamnya. Kuurutkan dari yang paling atas, lalu kutarik sampai ke yang paling bawah.

Getaran-getaran dan panas dingin di tubuhku berubah menjadi bulir air yang mendidih dari ujung bola mataku. Aku masih tidak percaya dengan apa yang sekarang aku baca. Ternyata lelaki yang selama ini kuanggap robot, alergi dengan lawan jenis, telah jatuh cinta lagi dengan perempuan lain. Dan ternyata dia adalah sosok yang lembut, penyayang, dan penuh perhatian. Semuanya kusaksikan sendiri dengan kedua mataku. Layar android ini saksi keduanya.

Aku baru sadar, apa itu cemburu dan apa itu sakit hati. Sakit. Sakit sekali.

Daun pintu rumahku terbuka sendiri, di baliknya ada dia. Matanya membulat, mukanya merah padam. Bibirnya menganga. Dia adalah saksi ketiga atas kejadian ini. (*)

 

HongKong, 14 Desember 2017

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukan komentar
Masukan nama anda disini