Sastra Migran – Puisi

0
31

PUISI-PUISI

Nicma Faneri

 

TITIP RINDU UNTUK IBU PADA SEBAIT DOA

 

Bu,

Ini puisi yang kutulis di atas lembar rindu

Dengan tinta sayang yang membiru

Semoga tersampaikan padamu

Ibu juara satu di hatiku

 

Bu,

Doamu senantiasa bersama perjuanganku

Kasih hangatmu mengobati luka-lukaku

Dan cinta yang kau tanam dalam diriku menjadikanku perempuan tangguh dan kuat

Oh Ibu semoga engkau sehat selalu

 

Bu,

Perjalanan di tanah rantau tak mudah

Berliku dan penuh duri

Badai selalu mengancam siap membuatku karam

Namun doamu memelekku dalam ketakutan itu

 

Bu,

Kutitikan rindu pada sebaik doaku

Semoga aku bisa menjadi anak yang berbakti

Semoga aku bisa membahagiakanmu dengan cinta sebesar cintamu kepadaku

  

PADA MALAM

 

Pada malam mengumandangkan harapan

di langit-langit Oscar By The Sea

Secuil cahaya menembus udara 8 derajat celsius

Dingin merasuk merengkuh sukma

wahai yang terpanggil rindu

 

Atas nama cinta yang telah tersurat

sebagai tambatan dan pilihan

genggam erat tanganku

tuntun jalan setapakku

menelusuri kenangan di lorong waktu

 

Sedikit sulit kenangan enggan terlepas dari napas

Dan detak jatung masih berirama menyeka rindu

dalam majas puisi hatiku bercerita

Jejak-jejak berdarah dari kisah-kisah kelam

Meninabobokan jiwa-jiwa dalam kesunyian

 

DIA YANG BERNAMA KESENDIRIAN

 

Aku ingin berbicara padamu melalui puisiku ini

Maafkan jika sajaknya masih sumbang

Aku menulisnya di dalam ruang berkabut

Gelap

 

Coba dengar ini suara hati

Ia akan memberitahumu

Perihal dia yang bernama kesendirian

Iya dia yang benama kesendirian

Si pembunuh tak beridentitas

 

Kesaksian perahu nelayan di pelabuhan kecil ini

Aku dinyatakan kehilangan kewarasan oleh logika

Saat hatiku tak lagi mampu membendung kecewa

Kesendirian dan kenangan menghukum rajam sukma

 

Ada kalanya kesendirian itu menenangkan

Ada kalanya kenangan memberikan pelajaran

Atau keduanya merupakan pelarian?

Kuberharap semua itu bukan suatu keputusan

Apalagi pernyataan yang mewakili segala keputusasaan

 

Duh Gusti

Ke mana perginya cahaya?

Hampa

 

JALAN SETAPAK SI PENGEMBARA DI TANAH RANTAU

 

Wahai yang Maha Pemberi Cinta

Jangan biarkan sang pengembara tersesat di lembah gelap nun gulita 

jangan biarkan rasa sakit mengaramkan mimpinya

 

Pada awal dan akhir

Suka dan duka

Air mata dan tawa

Di antara benci dan cinta

 

Isi pun kosong

Benar atau salah

Dalam nyata pun maya

Kuatkan iman di dadanya untuk terus bergerak maju menuju jalan dan ridha-Mu

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukan komentar
Masukan nama anda disini