Siska, BMI yang Menunggu Penyelesaian Kasusnya di Pengadilan

0
19
Siska Berjilbab Pink

“Karena Artis, Cak Yudo & Percil Cepat Ditangani Kasusnya. Saya Ini Siapalah….”

HONG KONG, BI — Saat sejumlah teman dari organisasi Anggun Cinta Perdana (ACP) mengunjungi empat shelter buruh migran Indonesia (BMI) Bermasalah di Hong Kong pada Minggu, 1 April 2018, lalu, ada nada getir yang disampaikan oleh salah satu penghuni Shelter Islamic Union di Wan Chai.

Nada getir itu datang dari Siska, BMI cantik asal Kota Batu, Jawa Timur. Siska adalah salah satu BMI di Hong Kong yang sedang menghadapi kasus hukum terkait pelanggaran izin tinggal.

Saat dikunjungi sahabat-sahabat dari ACP, Siska mengaku dirinya tinggal di Shelter Islamic Union sudah hampir 4 bulan. Dia juga belum tahu kapan kasusnya yang sudah beberapa kali di sidangkan di pengadilan, akan selesai, karena masih menunggu persidangan selanjutnya.

Tampak sekali Siska telah merasa lelah dan jenuh dengan masalah yang tengah dihadapinya, sementara dirinya tidak tahu apa yang bisa dilakukannya agar masalahnya cepat tuntas.

“Siska pasrah saja, Mbak. Capek bolak-balik sidang, rasa ingin cepat kembali. Kalau tinggal di shelter terlalu lama, kasihan keluarga di Tanah Air karena saya gak boleh kerja, jadi gak bisa bantu ekonomi orangtua, dan lagipula, saya takut untuk menceritakan keadaan saya ini kepada mereka, tidak tega,” keluh Siska di Shelter Islamic Union, Minggu (1/4).

Siska mengaku dirinya ingin cepat pulang ke kampung halaman dan berkumpul dengan keluarga tercinta.

“Saya belum tahu keputusan hakim, tapi saya berharap bisa secepatnya pulang. Di-blacklist tidak apa daripada saya harus dipenjara. Di penjara itu tidak enak, karena pernah ngalamin tinggal dua hari di penjara setelah penangkapan terjadi. Ini saya tinggal di luar karena ada jaminan,” aku Siska.

 

Majikan Licik

Siska mengaku dirinya mendapat masalah hukum di Hong Kong akibat kelicikan dan kecerobohan majikannya, selain dirinya sendiri kurang begitu paham dengan hukum di Hong Kong. Siska berharap agar teman-teman BMI lainnya bisa mengambil hikmah dari kasusnya tersebut.

“Majikanku ternyata punya 15 pembantu dan hanya saya yang dipekerjakan di rumah (majikan). 14 pembantu lainnya kemungkinan kerjanya di luaran, seperti part time di restoran, jualan makanan, dan lain-lain,” ujar Siska.

Pihak imigrasi Hong Kong, menurut pengakuan Siska, mencurigai dirinya karena salah satu orang yang ditandatangani oleh majikannya tertangkap. Pihak imigrasi lalu mendatangi rumah majikan dan akhirnya petugas bertemu dengan Siska.

“Mereka (petugas imigrasi) langsung cek data saya. Ternyata begitu dicek, di dalam kontrak kerja alamat yang menjadi tempat kerja saya seharusnya di Kennedy town, tapi kenapa ini malah (saya) berada dan tinggal di North Point? Otomatis itu salah dalam aturan imigrasi,” beber Siska.

Sebetulnya, Siska bisa menuntut majikannya atas kasus tersebut, tetapi dengan sejumlah pertimbangan, Siska akhirnya tidak menuntut dan memilih mengikhlaskan saja.

“Saya kepengin nuntut hak saya, tapi harus lama lagi tinggal di Hong Kong tanpa pekerjaan. Saya ikhlasin aja-lah. Biar Allah saja yang balas kelakuan jahat majikan saya,” keluhnya.

Siska pun kemudian membandingkan dirinya yang seorang BMI, majikannya, dan juga Cak Yudo dan Percil. Semuanya berkasus atau pernah berkasus di Hong Kong.

Menurut Siska, Cak Yudo dan Percil keduanya seorang artis sehingga ketika mengalami kasus di Hong Kong, banyak yang peduli dan banyak yang membantu.

Lalu, majikannya. “Majikan saya itu licik sekali dan dibantu oleh banyak pengacara. Sedangkan saya ini siapalah yang peduli, kan bukan seperti artis Cak Yudo dan Percil yang ditangani dengan cepat kasusnya,” keluh Siska dengan nada seperti protes karena merasa mendapat perlakuan berbeda.

Siska pun mengingatkan teman-teman BMI lainnya.

“Saya sudah kangen sama keluarga, mau cepat pulang. Harapan saya teman-teman harus hati-hati bila punya majikan seperti itu,” tutup Siska. (Tati Tia Surati/Ocuz Wina)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukan komentar
Masukan nama anda disini