Tasaro GK Sampaikan Tiga Tips Menulis

 

HONG KONG, BI — Saat pelatihan, timbul banyak pertanyaan dari para peserta mengenai bagaimana cara menulis. Sejak awal Arswendo Atmowiloto memulai dengan kampanye menulis itu mudah. Semua orang kemudian berpikir menulis itu memang mudah.

Di Facebook, ada penulis yang protes. Katanya,  pelatihan menulis mudah itu menyesatkan karena menulis itu tidak akan pernah mudah. Berdasarkan realitas, menulis itu memang bukanlah sebuah pekerjaan yang sederhana.

Demikian dikatakan oleh mantan wartawan sekaligus seorang penulis, Tasaro GK, dalam pelatihan menulis dan fotografi yang diadakan oleh KJRI Hong Kong dan Kumparan yang bekerjasama dengan Bank BRI di Leactur Theater Hong Kong University, Ahad, 22 April 2018.

“Sebenarnya problem dari menulis bukanlah menulis itu sendiri, tapi mengenai pramenulis, yaitu membaca. Membaca bukan berarti kita selalu mengeja kata perkata, melainkan membaca keadaan atau sebuah fenomena, kemudian  menuliskan kembali bentuknya dengan sebuah cerita. Kesalahan membaca dan menulis itu susah dalam merangkai kata. Itu terjadi karena kesalahan ketika kita waktu masih SD. Kita diajari untuk membaca dan mengeja, tapi tidak tahu apa makna kata yang sedang kita eja tersebut. Jadi anak-anak harus diajari bagaimana membaca dengan makna dan menceritakannya kembali,” jelasnya.

Tasaro kemudian menyebut film Kung Fu Panda. Dalam film popoler tesebut si Poh bertanya kepada ayahnya tentang bagaimana cara membuat mie, tetapi ayahnya menjawab, tidak ada rahasia.

Menurut Tasaro, sebenarnya dalam menulis itu pun sama. Banyak orang yang tidak belajar menulis, tapi tiba-tiba menjadi penulis. Bila ditanya apa rahasianya, mereka akan bilang bahwa tidak ada rahasia.

“Maka menjadi penting adalah bagaimana kita mengisi kepala kita terlebih dahulu agar kita tahu bagaimana menulis, yaitu dengan membaca,” jelas Tasaro.

Mantan wartawan Jawa Pos itu kemudian menyampaikan bahwa menulis itu mau apa pun, esensi dasarnya sama. Bhkan, jauh lebih kuat bila novel ditulis dengan pendekatan reportase. Dalam menulis, teknik itu urusan terakhir. Setelah kita mempunyai kemampuan membaca dan menulis, kemampuan berikutnya adalah menulis jurnalistik.

 

Tips Menulis

Tasaro GK menyampaikan tiga tips dalam menulis.

 “Pertama dengan jurnalistik untuk sastra maupun tulisan lainnya, yaitu 5W +1H. Kedua, menulis artikel, dan ketiga menulis fiksi. Ada istilah bad news as good news karena sudah menjadi kecendrungan orang suka yang bombastis. Maka jurnalistik itu adalah disiplin ilmu yang harus dimiliki untuk menjadi penulis yang baik. Kalau akar kita tidak kokoh, kita tidak akan bertahan dalam menulis. Menulis juga harus pilih tema atau topik yang kuat dan spesifik agar menarik untuk dibaca,” pungkasnya. (Tati Tia Surati)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukan komentar
Masukan nama anda disini