Yuni Suryati: UT merupakan Lembaga Terpercaya dan Resmi!

0
168

 

 CAUSEWAY BAY, BI — Konsul Penerangan, Pendidikan, Sosial dan Budaya (Pensosbud) KJRI Hong Kong Yuni Suryati menegaskan bahwa Universitas Terbuka (UT) adalah satu lembaga yang terpercaya dan resmi dari pemerintah Indonesia. UT berada langsung di bawah Kemenristek Dikti.

Melalui KJRI yang termaktub dalam MoU UT, kejar paket C (SMA), dan kejar paket B (SMP) merupakan lembaga resmi yang digalakkan Indonesia saat ini di Hong Kong.

Hal itu disampaikan Konsul Pensosbud Yuni Suryati pada Minggu (13/5) saat memantau hari ke-2 pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS) UT Hong Kong periode 2018.1.

UAS digelar 2 kali, yakni pada Minggu (6/5) dan Minggu (13/5) pada pukul 9:00-16:30. UAS dilaksanakan di Olympic House, 1 Stadium Path, So Kon Po, Causeway Bay, Hong Kong, dan diikuti oleh 233 peserta.

Penegasan bahwa UT merupakan lembaga terpercaya dan resmi itu disampaikan Yuni Suryati untuk membangkitkan semangat pada mahasiswa UT di Hong Kong.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu ada kritikan pedas kepada UT di Hong Kong. Kritikan tersebut diunggah ke Facebook oleh beberapa mahasiswi yang merasa kurang puas dengan pelayanan UT. Rupanya, hal itu mengakibatkan sejumlah mahasiswa turun semangat kuliahnya.

Lebih lanjut Konsul Pensosbud menyampaikan nasehatnya. “Kritikan itu jangan dianggap sebagai sesuatu yang negatif. Jangan dengerin omongan orang tanpa bukti! Gini lho, bila terus jadi down, itu buktiin dulu apakah kritikan orang terhadap UT itu benar. Jika memang benar, sebagai bagian dari UT, malah harus memperbaiki diri. Kasih saran ke pengurus menejemenya, yang dikritik itu apanya, agar diperbaiki. Nggak down! Kritik itu membangun, jangan dianggap kritik itu menjelekkan!” ujar  Yuni Suryati kepada Berita Indonesia ketika ditemui pada Minggu sore (13/5).

Selain memberikan nasehat, Konsul Pensosbud juga menuturkan kiat belajar sewaktu menempuh pendidikannya dahulu. Yuni Suryati memakai metode baca dan tulis.

Dia pun menjabarkan metode belajarnya. Membaca modul pelajaran adalah hal utama. Usai membaca modul, dirinya akan menuliskan apa yang dibaca sesuai daya ingatnya. Jika ternyata apa yang dituliskan itu banyak kekurangannya atau tak sesuai isi modul, anita ulet ini akan membaca ulang materinya. Hasilnya memang tampak di depan mata. Dirinya berhasil jadi pegawai atasan di kementerian luar negeri.

Yuni Suryati pun salut pada semangat belajar mahasiswa UT Hong Kong. Dengan segala keterbatasannya, semangat ratusan BMI Hong Kong yang terdaftar sebagai mahasiswa UT memang patut diacungi jempol. Mereka tak membuang waktu luang.

Pasalnya di rumah majikan, mereka harus memikul besarnya tanggung jawab pekerjaan rumah tangga dan harus mengorbankan waktu belajarnya. Kesempatan hanya pada hari libur. Jangankan belajar dari jauh hari sebelum UAS, sistem kebut semalam (SKS) saja, sebagian dari mereka tak ada waktu.

Mereka menggunakan waktu istirahat UAS-nya yang tak seberapa lama itu untuk membolak-balik modul. Banyak di antara mahasiswa tampak tegang, dan seakan haus ilmu. Mereka tampak mengejar waktu karena sadar bahwa nilai UAS sangat menentukan kelulusannya.

Ingin Jadi Pendidik, Nekat S2

Ada yang istimewa pada UAS kali ini. Terdapat satu BMI Hong Kong yang nekat sendirian mencoba meneruskan ke strata 2 (S2)Pendidikan Bahasa Inggris. Dia adalah Ana Dwi Ratnawati. Dia mengerjakan soal-soal UAS bersama mahasiswa yang mendapat perlakuan khusus di ruang sekretariat.

Karena di Hong Kong belum dibuka pendaftaran jenjang S2, Ana Dwi Ratnawati mendaftarkan diri ke UPBJJ Bandung dan pihak UT Pusat memberi kemudahan. Ana tak perlu terbang ke Bandung. Dia direkomendasikan numpang ujian di UPBJJ LN UT Hong Kong.

Tentang kenekatannya itu, Berita Indonesia pun menanyakan motivasinya. Mahasiswi pemilik akun Facebook Dhika Esther itu pun menjawab bahwa dirinya ingin jadi pendidik. Tak peduli jadi guru honoran atau sekadar guru les, yang jelas dia butuh memperdalam ilmunya dulu agar memiliki ilmu yang cukup untuk dibagikan kepada muridnya kelak.

Sebenarnya, Natma Singemy selaku koordinator UT Pokjar Hong Kong berharap dapat membuka peluang pendidikan pascasarjana. Lulusan S1 dari UT Hong Kong pun telah lebih dari 50 orang. Untuk itu, pihaknya juga terus berbenah, dari managemen hingga sistem lembaganya, agar ke depannya UT Hong Kong bisa memberi pelayanan kepada mahasiswanya dengan lebih baik lagi.

Indonesian Learning Centre

Lepas dari UT, untuk menyirami kehausan BMI akan ilmu pengetahuan dan keterampilan sebagai bekal hidup di Tanah Air,  selaku Konsul Pensosbud, sesungguhnya Yuni Suryati pun berangan-angan dapat membuka Indonesian learning Centre, yang bisa menyediakan pendidikan dan keterampilan gratis bagi WNI, seperti belajar bahasa Inggris, Kantonis, Mandarin, dan komputer. Les memasak, membuat kue, dan kuliner lainnya.  Belajar tata rias, potong rambut, dan kecantikan. Keterampilan menjahit, merangkai bunga, dan lainnya bisa bidang kesenian yang dibutuhkan oleh BMI. Lembaga itu di bawah naungan KJRI Hong Kong.

Hanya saja, untuk saat ini impiannya itu belum bisa direalisasikan. Kendala utamanya adalah keterbatasan dana. KJRI tak cukup dana untuk menggaji para gurunya. (Argy. Fs)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukan komentar
Masukan nama anda disini