Ragam

Tradisi Unik Menyambut Ramadhan di Berbagai Negara

Jakarta, BI [27/02] – Dalam setiap peradapan selalu memiliki keunikan dalam menyambut hari – hari yang spesial, seperti umat muslim dari Jawa yang selalu menyambut datangnya Bulan Ramdhan dengan “megengan’ atau bersedekah makanan juga berkunjung ke makan keluarga untuk mendoakan almarhum dan almarhuman.

Berikut ini 5 tradisi menarik yang biasa dilakukan saat Ramadhan dari berbagai negara, melansir Karam Foundation.

1. Orang Mesir menyalakan lentera warna-warni

Selama Ramadhan, masyarakat Mesir menghiasi jalanan dengan lentera Fanoos yang menyebarkan cahaya sepanjang bulan suci. Lentera ini melambangkan persatuan dan kegembiraan. Cerita tentang asal usul Fanoos di Mesir bermacam-macam.

Ada yang mengatakan bahwa pada hari kelima Ramadhan tahun 358 H (969 M) khalifah Fatimiyah Moaezz El-Din El-Allah pertama kali memasuki Kairo, kota yang didirikan oleh pasukannya. Saat ia tiba setelah gelap, warga datang berbondong-bondong sambil membawa lilin yang dilindungi bingkai kayu untuk mencegah ledakan, menyambut dan merayakan kedatangannya. Kemudian, struktur kayunya menjadi lentera bermotif.

2. Meriam ditembakkan saat berbuka puasa di Suriah

Dikenal dengan nama Midfa al Iftar, tradisi ini konon dimulai di Mesir lebih dari 200 tahun yang lalu ketika negara tersebut diperintah oleh penguasa Ottoman Khosh Qadam. Saat menguji meriam baru saat matahari terbenam, Qadam secara tidak sengaja menembakkannya.Suara itu bergema di seluruh Kairo. Hal ini menyebabkan banyak warga sipil berspekulasi bahwa ini adalah cara baru untuk menandai berakhirnya masa puasa. Belakangan, negara lain seperti Suriah dan Lebanon mengadopsi tradisi ini.

ilustrasi tradisi pembersihan/padusan di Jawa

3. Ritual pembersihan / padusan menandai Ramadhan di Indonesia

Padusan (berarti “mandi”) adalah tradisi Indonesia di mana umat Islam melakukan berbagai ritual pada hari sebelum Ramadhan untuk “menyucikan diri”. Wali Songo adalah pendakwah pertama yang menyebarkan ajaran Islam ke seluruh Pulau Jawa. Dipercaya bahwa merekalah orang pertama yang menyebarkan tradisi Padusan.

4. Penjaga kota Maroko melakukan shalat subuh

Selama bulan Ramadhan, pembawa pesan kota, Nafar, menjelajahi lingkungan Maroko dengan mengenakan kostum tradisional gandora, sandal, dan topi, sambil meniup klakson untuk membangunkan keluarga untuk sahur.

Orang memilih Nafar karena kejujuran dan empatinya. Tradisi ini dimulai pada abad ke-7 ketika seorang sahabat Nabi Muhammad SAW berkeliaran di jalanan saat fajar sambil menyanyikan sholawat merdu.

5. Anak-anak bernyanyi untuk manisan di Unie Emirat Arab (UEA)

Trick-or-Treating versi Muslim. Tradisi “Haq Al Laila” berlangsung pada hari ke 13, 14 dan 15 bulan Ramadhan. Tradisi ini berasal dari Bahrain, di mana anak-anak dengan pakaian warna-warni berkeliaran di sekitar distrik kota, mengumpulkan permen dan menyanyikan lagu-lagu tradisional setempat.

Nyanyikan Atona Allah Yutikom, Bait Makkah Yudikum, yang diterjemahkan dari bahasa Arab berarti “Berikan kepada kami dan Allah akan membalas Anda dan membantu Anda mengunjungi Rumah Allah di Mekah.” Saat ini, tradisi tersebut dirayakan di negara-negara Teluk, dengan menekankan pentingnya ikatan sosial yang kuat dan nilai-nilai kekeluargaan.[*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait

Lihat Juga Berita Ini :
Close
Back to top button

AdBlock Terdeteksi!

Silahkan matikan / whitelist website ini jika anda menggunakan AdBlock Extension. Iklan dari website ini sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan bisnis kami. Terima Kasih. - Please turn off / whitelist this website if you're using AdBlock Extension. Advertising from this website is vital for the sustainability of our business. Thank You.