Demam AI Picu Krisis Chip Memori, Hp Terancam Lebih Mahal

Jakarta, BI [12/12] – Perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) memicu krisis chip memori imbas tingginya permintaan perangkat keras penunjang ini.
Krisis chip memori global memaksa perusahaan AI dan elektronik untuk berebut pasokan yang semakin menipis. Krisis pada komponen penting yang berfungsi menyimpan data ini lantas membuat harga terus melonjak.
Toko elektronik di Jepang dilaporkan mulai membatasi jumlah hard disk drive yang dapat dibeli oleh pembeli. Sementara itu, produsen smartphone China memperingatkan tentang kenaikan harga.
Menurut tiga sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, raksasa teknologi seperti Microsoft, Google, dan ByteDance sedang berusaha keras untuk mendapatkan pasokan dari produsen chip memori seperti Micron, Samsung Electronics, dan SK Hynix.
Kekurangan pasokan ini mencakup hampir semua jenis memori, mulai dari chip flash yang digunakan dalam USB drive dan smartphone hingga memori berbandwidth tinggi (HBM) yang digunakan untuk menggerakkan chip AI di pusat data.
Menurut firma riset pasar TrendForce, harga di beberapa segmen telah lebih dari dua kali lipat sejak Februari, membuat para pedagang yakin bahwa kenaikan harga ini masih akan berlanjut.
Dampak negatif krisis ini dinilai bisa meluas ke luar sektor teknologi. Banyak ekonom dan eksekutif memperingatkan bahwa kelangkaan yang berkepanjangan berisiko menghambat peningkatan produktivitas berbasis AI dan menunda investasi ratusan miliar dolar dalam infrastruktur digital.
Hal ini juga bisa menambah tekanan inflasi saat banyak pihak berusaha mengendalikan kenaikan harga dan menghadapi tarif AS.
“Kekurangan memori kini telah berkembang dari masalah tingkat komponen menjadi risiko makroekonomi,” kata Sanchit Vir Gogia, CEO Greyhound Research, sebuah firma penasihat teknologi, dikutip dari Reuters.
“(Pembuatan AI) bertabrakan dengan rantai pasokan yang tidak dapat memenuhi persyaratan fisiknya,” tambahnya.
Reuters mendalami krisis pasokan yang semakin parah ini dengan melakukan wawancara pada hampir 40 orang, termasuk 17 eksekutif di perusahaan pembuat chip dan distributor.
Seorang eksekutif perusahaan chip memori mengatakan bahwa kekurangan pasokan akan menunda proyek-proyek pusat data di masa depan. (lom/dmi)



