Kisah Bakti Para Ulama Pada Orang Tua Mereka

Berbakti kepada kedua orang tua merupakan salah satu ibadah terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah dan amalan yang paling Dia cintai. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, ‘Amalan apa yang paling Allah cintai?’ Beliau menjawab, ‘Shalat di awal waktunya.’ Aku bertanya lagi, ‘Lalu apa?’ Beliau menjawab, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku lalu bertanya lagi, ‘Lalu apa?’ Beliau menjawab, ‘Berjihad di jalan Allah.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Bakti kepada kedua orang tua merupakan sifat para kekasih Allah, terutama para nabi dan rasul Alaihimussalam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang Nabi Isa Alaihissalam:
“dan berbakti kepada ibuku.” (QS. Maryam: 32).
Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman tentang Nabi Yahya bin Zakaria Alaihissalam:
“dan berbakti kepada kedua ibu-bapaknya.” (QS. Maryam: 14).
Di antara para kekasih Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu adalah para ulama yang membuat contoh besar dalam berbakti kepada kedua orang tua mereka dalam berbagai kisah. Mungkin sebagian orang akan takjub dengan kisah-kisah itu, tapi apabila seorang hamba mengetahui bahwa orang-orang terbaik itu mengejar keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sedangkan keridhaan-Nya tergantung pada keridhaan kedua orang tua, maka ketakjubannya akan sirna.
Disebutkan dalam banyak buku sejarah dan biografi kisah-kisah kebaktian mereka kepada orang tua mereka, dan sebagiannya dapat dihimpun. Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar itu dapat berguna bagi penyusunnya, pembacanya, dan penerbitnya, sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.
Berhenti dari perjalanan penuntut ilmu demi keridhaan ibu

Al-Hafizh Ahmad bin Ali bin Muslim Rahimahullah pernah meminta izin ibunya untuk melakukan perjalanan menuntut ilmu kepada Imam Qutaibah, tapi, ibunya tidak mengizinkan. Setelah ibunya wafat, barulah beliau pergi menemui sang Imam, tapi ternyata beliau juga sudah wafat. Orang-orang menghiburnya atas kejadian ini, lalu dia berkata, “Inilah buah dari ilmu, aku lebih mengutamakan keridhaan ibu.”
Bandar bin Basyar bin Utsman bin Kaisan Rahimahullah menceritakan, “Aku pernah ingin pergi melakukan perjalanan mencari ilmu, tetapi ibuku melarangku, dan aku pun menaati beliau, sehingga aku mendapat keberkahan ilmu.”
Imam Ibnu Asakir Rahimahullah, penulis kitab Tarikh Dimasyq pernah ditanya tentang keterlambatannya dalam memulai perjalanan ke Isfahan, dan beliau menjawab, “Aku meminta izin kepada ibuku untuk melakukan perjalanan ke sana, tapi beliau tidak mengizinkan.”
Meninggalkan pelajaran untuk mengurus dan berbakti kepada ayahnya
Imam Abdul Jalil bin Abi Al-Mawahib bin Abdul Baqi Rahimahullah adalah orang yang sangat berbakti kepada ayahnya. Berkali-kali terlihat ketika beliau sedang dalam kajian, lalu ayahnya lewat, beliau berdiri dari kajian dan mengikuti jejak jalannya dari belakang dengan penuh adab dan ketenangan. Ayahnya sangat mencintai, menghormati, dan mendoakannya, karena beliau sangat berbakti kepadanya, selalu taat, dan tidak membicarakan hal-hal yang tidak perlu.
Kisah-kisah ini merupakan dakwah aplikatif agar kita mencontoh mereka. Siapa yang berbakti kepada kedua orang tuanya, maka berbahagialah dengan surga. Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam:
“Aku pernah tidur dan bermimpi sedang di dalam surga, lalu aku mendengar suara orang yang membaca, sehingga aku bertanya, ‘Siapa itu?’ Dan orang-orang menjawab, ‘Haritsah bin an-Nu’man!’” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam lalu bersabda, “Demikianlah kebaktian! Demikianlah kebaktian!” Dan Haritsah adalah orang yang paling berbakti kepada ibunya. (HR. Ahmad).
Siapa yang berbakti kepada kedua orang tua, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberinya jalan keluar dari berbagai musibah. Dalilnya adalah hadits tentang kisah tiga orang yang pergi ke gurun. Mereka lalu kehujanan, sehingga mereka berteduh di dalam gua yang ada di suatu bukit. Kemudian ada batu besar yang longsor sehingga menutup bibir gua yang membuat mereka tidak dapat keluar.
Salah satu dari mereka lalu berkata, “Ingatlah amalan terbaik yang pernah kalian lakukan, lalu mintalah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan wasilah amalan itu, semoga Allah memberi kalian jalan keluar.
Mereka lalu berdoa dengan wasilah amal saleh mereka. Salah satu dari mereka adalah orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, sehingga dia berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan bertawasul dengan amalan ini, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian memberi mereka jalan keluar, batu itu menggelinding dari bibir gua dan mereka dapat berjalan keluar. (Diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Muslim).
Contoh-contoh ini juga merupakan seruan bagi orang yang terkalahkan hawa nafsunya dan tertipu oleh setan, sehingga membalas kebaikan orang tua dengan keburukan, agar dia bertobat dan kembali ke jalan yang benar. [BI]



