
Peristiwa Isra’ dan Mi’raj benar-benar telah terjadi berdasarkan nash Al-Qur’an, yang juga menjadi nama suratnya yaitu Al-Isra’. Allah SWT berfirman:” Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Isra’: 1)
Sedangkan Mi’raj tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an kecuali melalui isyarat, yaitu dalam surat An-Najm: 14. Allah berfirman:”Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu lain, yaitu di Sidratul Muntaha.”
Peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan hadiah plesiran istimewa untuk Nabi dari Allah SWT. Karena Nabi Muhammad SAW telah melewati masa-masa yang berat dan sulit dalam perjalanan hidupnya. Selama 10 tahun Beliau berda’wah kepada manusia, mengajarkan cara hidup yang baik dan sehat kepada mereka. Memberikan bimbingan agar mereka hidup bahagia dan selamat baik di dunia maupun di akhirat. Namun, mereka memperlakukan beliau dengan cara yang sadis dan keras. Penyiksaan mereka semakin meningkat sepeninggalan paman beliau Abu Talib, karena dia selalu melindunginya. Begitu pula setelah kematian Khadijah, karena keduanya merupakan sandaran bagi Beliau. Abu Talib merupakan sandaran beliau di luar, sedangkan Khadijah merupakan sandaran di dalam. Keduanya meninggal pada tahun yang sama, sehingga beliau menamakannya sebagai Ámul Huzni atau tahun kesedihan.
Beliau mencoba mengarahkan pandangan ke tempat lain, ke tanah baru, dengan harapan di sana beliau bisa menanamkan benih da’wah. Maka beliau dan pembantunya Zaid Bin Harisah untuk memutuskan pergi ke Thaif. Namun justeru di sana beliau memperoleh sambutan yang lebih kejam daripada orang-orang Quraisy. Mereka menyambut Beliau dengan kata-kata kotor dan hina, keji dan menjijikkan. Bukan hanya sekedar cacian dan hinaan yang beliau terima, malah mereka melempari batu sehingga tumit beliau mengucurkan darah. Maka tidak ada pilihan kecuali pulang kembali ke Makkah Al-Mukarramah.
Peristiwa Isra’ dan Mi’raj atau naik turunnya Nabi SAW dari bumi ke langit dan turun kembali ke bumi pada ketika itu, merupakan ujian iman bagi orang-orang yang berada di sekeliling Nabi, sekaligus membawa makna yang sangat besar dalam kemajuan sains dan teknologi modern serta ruang angkasa raya. Peristiwa tersebut hanya dapat dipercayai oleh para sahabat beliau yang taat setia kepadanya serta percaya dengan sepenuhnya akan kekuasaan Allah. Padahal, kalau kita perhatikan sejarah para nabi sebelum Muhammad SAW, kita dapat buktikan bahwa naik turun manusia dari bumi ke langit dan dari langit ke bumi telah betul-betul terjadi. Bukankah Adam dan Hawa telah diturunkan oleh Allah ke bumi? Bukankah Isa putra Maryam telah dinaikkan oleh Allah ke langit? Hal ini telah terjadi dengan sebenarnya dan tidak perlu dipertikaikan kebenarannya. Begitu juga mengenai diperjalankan dan diperlihatkan kepada Nabi Muhammad oleh Allah akan tanda-tanda-Nya. Tidakkah hal ini telah terjadi terhadap Nabi Ibrahim seperti yang dijelaskan oleh Allah dalam surah Al-An’am:” Dan demikianlah kami perlihatkan kepada Ibrahim kerajaan-kerajaan di langit-langit dan di bumi, agar supaya ia termasuk orang-orang yang yakin.” (Al-An’ám: 75)
Maka demikianlah halnya yang telah terjadi kepada Nabi Muhammad SAW dengan peristiwa agung yang bersejarah itu. Allah SWT mengutus Jibril AS untuk mendatangi Muhammad SAW, membersihkan dadanya dengan air zam-zam, lalu pergi menunggang buraq, hewan yang menyerupai kilat, yang tidak bisa diketahui bagaimana bentuk yang sebenarnya, sebagaimana peristiwa turunnya Adam dan Hawa serta naiknya Isa AS, tidak diketahui dengan pasti dengan alat transportasi apakah mereka diturunkan dan dinaikkan. Hanya Allah sajalah yang lebih mengetahui akan hal ini.
Ketika dimi’rojkan, Rasulullah pernah melihat beberapa orang yang memotong bibir mereka dengan alat pemotong dari api, Beliau bertanya :” Siapakah mereka itu wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Para ahli pemidato dari umatmu, yang menyuruh kepada kebajikan, namun mereka melupakan diri sendiri. Beliau telah melihat hukuman bagi orang-orang yang yang suka menggunjing orang lain. Mereka mencakari wajahnya dengan kuku-kuku dari tembaga. Kemudian wajah mereka pulih seperti semula, lalu mereka mencakarinya lagi. Begitulah seterusnya.
Beliau dimi’rojkan sehingga turun kewajiban solat lima waktu di langit. Ini merupakan keutamaan kewajiban ini bila dibandingkan dengan kewajiban-kewajiban lain. Karena kewajiban-kewajiban yang lain diturunkan di bumi, sedangkan kewajiban salat diturunkan di langit. Ini menunjukkan kedudukannya di sisi Allah dan benar-benar sebagai sendi agama. Oleh karena itu siapa yang menegakkannya, berarti menegakkan Islam dan siapa yang menghancurkannya, berarti menghancurkan Islam.
Ketika Nabi baru saja di Isra’-Mi’rajkan dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa dan dinaikkan ke Sidratul Muntaha atau planet tertinggi (sebagian mentafsirkan Pluto) dalam waktu lebih kurang 9 jam, orang-orang kafir Mekkah sama sekali tidak mempercayai adanya peristiwa itu karena menurut mereka, perjalanan pulang-pergi dari Mekkah-Jerussalem-Mekkah saja setidaknya memakan waktu sebulan lamanya. Oleh sebab itu Nabi dituduh sebagai pembohong, dan sebagai tukang sihir.
Perjalanan yang ditempuh oleh Nabi dalam tempoh kurang lebih 9 jam pulang pergi itu adalah satu perjalanan yang sangat jauh jaraknya. Perjalanan yang begitu cepat, berarti lebih cepat dari kecepatan sinar. Seperti yang telah disebut dalam ayat pertama surah Al-Isra’ bahwa perjalanan itu bukanlah dengan kemampuan atau keinginan Nabi sendiri. Perjalanan itu adalah urusan Allah yang menghendakinya, maka diperjalankan hambaNya Muhammad dengan kekuasaanNya. Kita belum mampu hendak memikirkan dengan alat seperti apa yang telah diperjalankan Ibrahim dan Muhammad naik melihat kerajaan-kerajaan di langit, begitu juga kendaraan seperti apa yang digunakan untuk memindahkan Adam dari langit ke bumi dan mengangkat Isa dari bumi ke langit. Allah melakukan apa saja yang dikehendakinya, dan Dia adalah berkuasa atas tiap-tiap sesuatu.
Seluruh kejadian Isra’ atau Mi’raj itu adalah untuk diperlihatkan kepada Muhammad Rasulullah SAW agar supaya ia bertambah yakin dan tabah dalam menjalankan tugas kerasulannya. Bagi Muhammad, dia mendapat keyakinan tentang Allah dan apa yang ada di langit-langit, seperti apa yang dinyatakan oleh Allah dalam surah Asy-Syura ayat 29 yang artinya :” Dan sebagian dari tanda-tanda Allah ialah kejadian langit-langit dan bumi (planet-planet keluarga matahari) dan apa-apa yang disebarkan pada planet bumi dan planet-planet yang lain dari segala makhluq yang berjalan dengan dua kaki, empat kaki atau menjulur dengan perutnya dimana Allah berkuasa mengumpulkan atau menemukan mereka semua jika dikehendaki melakukannya.”
Justeru itulah dalam peristiwa Isra Mi’raj dan apa yang diperlihatkan oleh Allah kepada Nabi itu disebut oleh Allah sebagai fitnatan linnas atau ujian kepada manusia. Jika manusia pada zaman teknologi yang serba canggih masih lagi heran dan ragu dengan peristiwa Isra Mi’raj, maka apatah lagi manusia di zaman dulu, sudah tentu lebih tidak mempercayai lagi jika diceritakan oleh Muhammad SAW apa-apa yang telah dilihatnya.



