
Sufistik asal kata sufi orang yang menguasai ilmu tasawuf, dengan kesedrhanan dan memakai pakain putih dengan istilah shuf sebab antara keduanya ada hubungan atau korelasi yakni jenis pakaian yang sederhana dengan kebersahajaan hidup seorang sufi atau kebiasaan memakai wol kasar merupakan karakteristik kehidupan orang-orang shaleh sebelum datanya Islam atau sufi sebagai kepanaan diri” (Mystics of Islam,11:1914), atau orang yang memiliki aliran tasawuf sehingga digelar sufistis (KBB, 1347:2008).
Meskipun demikian makna tersebut tidak bisa dipisahkan dengan istilah sufi atau seorang asketis hidup dalam ksederhanan (Rivay Siregar, 31:2000).
Dengan demikian sufistis adalah cara dan jalan bagaimana seseorang muslim dapat berada sedekat mungkin dengan Allah (Harun Nasutiona, 1989), yang mempunyai hubungan langsung dengan Tuhan penuh dengan kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan dengan mengasingkan diri dan berkontemplase ,(Ittihad) atau menyatu dengan Tuhan (Harun Nasutiona, 1989:56), sehingga yang lahir adalah moral, dan jiwa yang bening.
Capaian Puasa di kalangan kaum sufi
Dalam dunia sufistik, sebagaiman dijelaskan sebelumnya bahwa puasa adalah jiwa dan hatiseorang hambah yang shaleh, senantiasa bertasyakkur dan beribadah kepada Allah meskipun dalam kondisi lapar tidak makan dan tidak minum. Namun di balik semua itu ahli tasawuf ingin mencapai kemuliaan, adapaun kemuliaan dimkasud adalah:
- Mahabbah fillah
Cinta kepada Allah, atau prilaku emosional terhadap Allah Swt, bahwa apa yang menjadi perintahnya akan diwujudkan sesuai syariat, sementara Alqusyairi menjelaskan adapun mahabbah (cinta) seorang hambah kepada Allah adalah suatu keadaan dimana sihamba mendapatkan/merasakan cinta itu dari hatinya suatu peranan yang amat halus, sulit digambarkan (Aqis Bil Qisthi,85:2004), begitu juga Rabiatul Adawiyah bahwa cinta adalah tertutupnya rasa benci terhdap makhluk lain (Ajaran Para Sufi, 46:1996) dengan demikian mahabbah adalah cinta seorang sufi yang telah menjalani perintah Allah Swt, sehingga melakukan ibdah semata-mata karena adanya rasa cinta.
Dalam sebuah hadis qudsi, “barangsiapa mencintai-KU dimalam-malam ramdahan maka Aku mencintainya, barang siapa bertobat kepada-Ku dimalam-malam ramadhan maka aku mengampuninya dan barang siapa meminta kepada-Ku malam ramadhan makan aku membrinya” kuperintahkan kepada Malikat Kiraman Katibiin mencatat segala kebaikan dan tidak mencatat segalah kejahataanya dan diampunkan dosa-dosanya yang lalu (Syarah Hadis Qudsi)
2. Ma’rifatullah
Dari segi bahasa adalah pengetahuan yang telah didasarkan atas suatu keyakinan penuh terhadap segala sesuatu sehingga hilanglah keragu-raguan, kebenaran atau dalam istilah lain disebut dengan Al-Haq merupakan satu-satunya obyek yang ingin dicapai (Aqis Bil Qisthi,152:2004) Al-Qusyairi menjelaskan bahwa ma’rifat adalah ilmu dan semua ilmu adalah ma’rifat dan semua “ma’rifat adalah ilmu dan setiap orang yang mempunyai ilmu adalah alim (Qurish Shihab,390: 2000). alim atau berilmu yang dimaksud adalah tentang Allah Swt, sebagai rangkaian pengalaman yang dialami gambaraannya terhadap kebesaran Allah Swt. Pengetahuan para sufi tentang ma’rifat memiliki pandangan yang sama yakni bertujuan sedekat mungkin berada dalam diri Allah Swt. Al-Gazali menjelaskan ma’rifat adalah sebuah ilmunasi yang terpancar sebagai metode pengetahuan yang tinggi disebut para “arifin atau orang yang memperoleh ma’rifat dengan dasar pengetahuan yang tinggi, memiliki kalbu yang suci, prilaku dan budi pekerti yang tinggi dari segala sesuatu” atau disebut kondisi mental, kondisi mental dimaksud adalah sikap dan kebijakan seorang dalam merespon peroblematika kehidupan, tanpa pamri semata-mata karena Allah Swt.
3. Musyahadah
Adalah kesinambungan antara penglihatan hati dan penglihatan mata lahir, pengliatan hati adalah tersingkapnya keyakinan dan bertambahnya dugaan bahwa Allah ada adalam setiap eksistensi (Al-Luma’142:2009), hal ini diperkuat dalam Qs Qaf: 37 sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mmempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya, yang dimaksud adalah alam kegaiban.
4. Mujahadah
Dari segi bahasa adalah berasal dari kata jahada atau ijtihadah, yang mana dari kedua kata itu mempunyai persamaan arti yaitu berusaha keras atau sungguh-sungguh atau sesorang pelaku tasawuf dalam berusha untuk memcapai pada tingkat yang lebih tinggi dan harus disertai dengan mujahadah yang sunggu-sungguh berusaha keras serta perjuangan yang sekuat tenaga (Aqis Bil Qisthi,198-199:2004), kata lain dari mujahadah adalah berusaha melawan hawa nafsu, sehingga seseorang yang berpuasa merupakan hal sungguh-sungguh tidak bermain-main, penuh keseriusan, itulah sebabnya Nabi mengatakan “berapa banyak orang melaksanakan puasa tapi tidak mersakan apa-apa kecuali lapar dan haus (Alhadis), sebab di dalmnya ada kesungguhan sebagai perjuangan untuk mendapatkan kemuliaan atau ketaqwaan.
5. Mukasyafah
Seorang sufi yang bersungguh-sungguh berpusa serta menjalkan ibadah lainnya dibulan suci ramadahan maka secara langsung mendapatkan kemulian. Mencermati istilah mukasyafah adalah terbuka tirai, maksudnya terbuka segalah rahasia kegaiban alam yang selama ini tersembunyi, karena itu ilmu muksyafah, sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi “bahwa sesungguhnya hanya hatilah satu-satunya yang sanggup untuk menampung Allah Swt (Aqis Bil Qisthi, 215:2004) itulah sebabnya selalu dituntut hati yang bersih, sebab di dalam hati tersimpan rahasia Ilahi, namun semua itu terhubung dengan jiwa yang suci yang sudah diproses dengan berpusa selama ramadahan, diatmba dengan amalan lain. Sehinggi diakhir ramadahan akan lahir kesucian yang disebut dengan fitrah, sebagai hakikat kesucian yang diberikan Allah Swt, kepada hambanya yang menjalankan puasa selama bulan ramadahan.[*]



