Tausiah

Meningkatkan Amal Ibadah Di Bulan Ramadhan

Penulis: Ustad Muhaemin Karim

Allah berfirman:” Pada sebagian malam hari, bersembahyang tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu meninggikan kamu pada tempat yang terpuji.” (Al-Isra: 79).

Ayat suci di atas menjelaskan bahwa semakin sering seseorang bersalat malam pada malam-malam hari, di mana kebanyakan manusia sedang terlelap tidur, apalagi dilakukan pada bulan Ramadhan, maka semakin tinggi kedudukannya nanti di akhirat kelak. Di dunianya, orang yang tiada malam tanpa tahajjud, akan lebih bermakna dalam mengarungi kehidupan yang penuh tantangan ini. Ia akan melaluinya dengan ringan, semangat dan optimistik dalam mencapai tujuan hidupnya.

Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan. Dalam bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, terutama pada malam hari. Malam-malam Ramadan memiliki keistimewaan tersendiri, di mana doa-doa dikabulkan dan pahala dilipatgandakan. Rasulullah saw. bersabda:“Barang siapa yang menegakkan (ibadah) di malam Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Malam Ramadan tidak sekadar waktu untuk beristirahat, tetapi juga kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai amalan. Shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta berdoa menjadi cara utama untuk menghidupkan malam-malam penuh berkah ini.

Dikisahkan sahabat Bilal radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata Rasulullah shalallaahu alahi wa sallam bersabda:“Hendaklah kalian senantiasa melakukan Qiyamul Lail (sholat malam), karena sesungguhnya sholat malam adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian. Dan sesungguhnya sholat malam adalah pendekatan kepada Allah, penghalang dari perbuatan dosa, penghapus segala kesalahan dan mengusir segala penyakit dari jasad (tubuh).” (HR At-Tirmidzi).

Dengan istiqamah bertahajjud di waktu malam, akan dapat mengubah persepsi orang lain terhadap pelakunya. Yang pada awalnya nama dan statusnya dicemarkan dan dihina-dinakan, Insya Allah, dengan bertahajjud secara kontinyu dan sering curhat kepada Al-Khaliq, orang itu akan dimuliakan dan ditempatkan Allah di dalam posisi yang mulia dan terpuji. Apalagi jika qiyamullail itu dilakukan di bulan Ramadhan, maka akan lebih banyak lagi bonus ganjaran yang akan diterimanya.

Waktu malam bagi orang yang berpuasa itu amat singkat, karena sangat indah dan memposanakan. Sementara malam bagi orang-orang yang menyia-nyiakannya terasa panjang karena mereka adalah orang-orang yang lalai.

Tanda-tanda orang yang saleh telah digambarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an:” Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah.” (Adz-Dzariyat: 17-18), dan firman-Nya:” Dan orang-orang yang memohon ampun di waktu sahur.” (Al-Imran: 17).

Maka malam-malam mereka adalah seindah-indah malam dan sahur mereka adalah seindah-indah sahur. Dahulu di Madinah, apabila malam sudah mulai larut, terdengarlah isak tangis orang-orang Muhajirin dan Ansar dalam membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an ketika melaksanakan salat malam. Akan tetapi, apabila fajar sudah menyingsing, mereka bagaikan singa-singa yang sangat berani.

Dalam kegelapan malam, rumah-rumah para sahabat, Muhajirin dan Ansar adalah madrasah bacaan Al-Qur’an, kampus-kampus tarbiyah dan akademi-akademi keimanan. Generasi sahabat dahulu telah menghidupkan malam-malam Ramadhan mereka dengan salat-salat sunnah, tilawah, dan dzikrullah. Mereka amat patuh terhadap pesan berharga Rasul yang berbunyi:” Barangsiapa yang mendirikan salat malam pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan dengan mengharapkan ganjaran, maka diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu.” (Bukhari)

Dengan mendirikan salat malam hamba Allah akan ingat saat-saat Hari Berkumpul di Padang Mahsyar nanti, di mana ia akan berdiri dengan penuh kesangsian dan ketakutan di hadapan Allah bersama-sama dengan seluruh manusia. Pada hari itu akan terbongkar semua rahasia diri dan tidak ada satu pun yang tersembunyi.

Mengingat-ingat gelapnya alam kubur dan beratnya siksaan yang ada di dalamnya, juga merupakan salah satu yang dapat mendorong kita untuk melakukan salat malam, karena salat malam akan menjadi cahaya yang menerangi kegelapan kubur. Demikian juga dengan mengingat-ingat betapa besar pahala melaksanakan ibadah sunnah yang paling utama tersebut dan betapa besar ampunan Allah terhadap kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa kita dengan melaksanakannya.

Para salafus-saleh dulu berbeda-beda dalam mengisi qiyamullail di bulan Ramadhan. Ada yang mengisinya dengan salat malam semalaman, ada yang larut dalam tilawatil Qur’an, ada yang terlena dalam dzikir kepada Allah, dan ada yang menghabiskan malamnya dengan bersujud dan bersyukur kepada Allah. Lalu, mengapa rumah kita selalu sepi dari semua ibadah yang mulia itu? Mengapa rumah kita selalu mengadu karena tidak adanya kita bertahajjud di dalamnya?

Jika malam sudah larut, hati orang-orang yang beriman akan terbangun dan jiwa mereka menjadi hidup. Sementara hati orang yang lalai tertidur, jiwa mereka akan menjadi mati. Bagaimana mungkin bisa tidur orang yang hatinya selalu teringat akan kesusahan alam kubur dan kebangkitan hari kiamat? Rasulullah pernah berpesan kepada Ibnu Umar:” Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti si Fulan yang dahulunya sering melaksanakan salat malam, tapi kemudian ia meninggalkannya sama sekali.”

Malam-malam Ramadhan, adalah saat-saat yang terbaik untuk memperbanyak dzikir, istighfar dan bertaubat kepada Allah. Karena dengan beristighfar itu Allah menerima segala amal perbuatan yang telah kita kerjakan dan mengampuni kesalahan-kesalahan serta mengembalikan kita ke alam fitri dan bersih sehingga dapat menemui Allah dengan hati yang damai dan sejahtera.

Marilah kita perbanyak istighfar kepada Allah karena dengan istighfar itu akan membuka gembok kunci kebahagiaan. Istighfar akan mendamaikan hati yang gundah. Istighfar akan melenyapkan jiwa yang resah. Istighfar merupakan pembuka rizki dan keuntungan.

Rahmat Allah itu maha luas. Ampunan-Nya selalu diberikan kepada hamba-Nya yang mau beristighfar kepada-Nya. Karunia-Nya selalu datang setiap pagi dan petang; siang dan malam tanpa henti. Allah berfirman:”Sesungguhnya Tuhan-Mu itu Maha luas ampunan-Nya.”(An-Najm:32)

Apalagi istighfar itu diucapkan di bulan suci ini, maka sudah pasti bahwa dosa-dosa orang yang sedang berpuasa tersebut diampuni Allah SWT. Dengan begitu, ketika ia memasuki bulan Syawwal, jiwanya akan bersih, fikirannya jernih, dosa-dosanya diampuni dan surgalah tempat tinggalnya.

Maka bersegeralah mengerjakan berbagai macam amal kebaikan karena bisa jadi dosa-dosa kita yang tidak diampuni pada hari-hari lain akan diampuninya pada malam-malam ini, dan boleh jadi taubat kita pada bulan-bulan yang lain akan diterimanya pada bulan ini. [*]

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Most Voted
Newest Oldest
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Terkait

Back to top button

AdBlock Terdeteksi!

Silahkan matikan / whitelist website ini jika anda menggunakan AdBlock Extension. Iklan dari website ini sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan bisnis kami. Terima Kasih. - Please turn off / whitelist this website if you're using AdBlock Extension. Advertising from this website is vital for the sustainability of our business. Thank You.