Tantangan Menjalankan Ibadah Puasa Di Rantau

Hong Kong, BI [08/03] – Puasa adalah momen yang sangat ditunggu umat Muslim, menjalankan ibadah yang satu ini bagi para perantau memiliki makna dan pengalaman tersendiri, abhkan mungkin tak bisa dilupakan.
Momen puasa yang seharusnya bisa berkumpul dengan keluarga mungkin hanyalah impian belaka.
Berbagai tantangan menjalankan ibadah puasa di rantau antara satu orang dengan yang lainnya sangatlah berbeda. Ada banyak sekali tantangan yang harus dihadapi ketika kita menjalankan ibadah puasa, terlebih jika majikan berbeda keyakinan dengan kita. Mereka mungkin merasa asing dengan apa yang menjadi kewajiban kita sebagai umat Muslim.
Namun, tak sedikit pula majikan yang memberikan kelonggaran dan izin kepada para pekerjanya untuk menjalankan puasa. Sebagian majikan tidak mengijinkan pekerjanya untuk berpuasa dengan berbagai alasan, seperti tidak ingin pekerjanya sakit karena seharian tidak makan, atau takut jika pekerjanya pingsan.
Di sisi lain, ada juga majikan yang memberi izin kepada pekerjanya untuk berpuasa karena memahami bahwa ini merupakan kewajibannya sebagai umat Muslim. “Ken” misalnya, perempuan asal Subang ini sudah 5 tahun bekerja di Hong Kong.

Saat pertama kali merasakan puasa di tanah rantau, Ia tak berani untuk meminta izin pada majikan. Namun seiring berjalannya waktu, Ken jadi berani untuk minta izin berpuasa. Justru majikannya mensupport dia untuk saling menghormati agama lain.
“Sekarang saya kalau tidak makan sahur, pasti ditanya. Tadi makan pagi ga katanya,” kata Ken menirukan si Bobo yang sudah Ia rawat di kontrak yang ketiga ini.
Lain Ken, lain pula dengan Dwi Rahayu. Ibu tiga anak asal Malang ini sudah sejak awal menginjakkan kaki di Hong Kong selalu berpuasa. “Aku alhamdulillah selalu puasa, jika tidak berhalangan insyaAllah tak pernah meninggalkan kewajiban rukun Islam,” ucapnya.
Dwi sudah 7 tahun bekerja di Hong Kong, sebenarnya Ia selalu merindukan saat berpuasa di rumah bersama anak dan keluarganya. Makan sahur dengan lauk dan sayur apa adanya sudah membuatnya senang dan bahagia. Menyiapkan menu berbuka dengan kolak pisang dan ubi kesukaan anak-anaknya sudah membuatnya sempurna menjadi seorang Ibu.
Namun, puasa kali ini lain dari tahun sebelumnya. “Aku selalu terurai air mata jika bicara tentang makna berkumpul dengan keluarga, saat itulah waktu yang selalu dinanti seorang Ibu, tapi demi mereka, keinginan itu harus kukubur dalam-dalam,” ungkap Dwi sambil menyeka air mata.
Puasa di negeri orang, terutama negara minoritas Muslim, memiliki arti mendalam yaitu ujian ketahanan iman, disiplin diri yang tinggi, dan adaptasi terhadap waktu siang yang berbeda. Ini adalah pengalaman memperkuat ketaqwaan (taqwa) melalui kesabaran ekstra menghadapi lingkungan yang tidak mendukung, mandiri dalam ibadah, dan tetap taat.
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa.(esti)



