
Ada kisah yang menceritakan pengalamannya dengan ibadah istigfar. Salah satunya tertuang dalam kisah Imam Ahmad dan istigfar penjual roti.
Mengutip buku Solusi Masalah dengan Qur’an oleh Yana Adam, Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang ulama besar pendiri Mazhab Hanbali atau murid dari Imam Syafi’i. Di masa akhir hidupnya, beliau bercerita:
“Suatu ketika (saat saya sudah tua), saya tidak tahu kenapa ingin sekali menuju ke Basrah, salah satu kota di Irak.”
Padahal Imam Ahmad tidak memiliki janji dengan siapapun atau memiliki suatu hajat. Beliau akhirnya tetap berangkat menuju Bashrah.
Imam Ahmad bercerita, “Setibanya di sana saat Isya’, saya ikut berjamaah shalat Isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin beristirahat.”
Imam Ahmad bertanya kepada penjual roti, “Sudah berapa lama kamu lakukan ini?”
Kemudian dijawab, “Sudah lama sekali, Syekh, saya menjual roti sudah tiga puluh tahun, semenjak itulah saya lakukan.”
Imam Ahmad bertanya lagi, “Apa hasil dari perbuatanmu ini?”
Penjual roti kemudian menjelaskan, “(Lantaran wasilah istigfar), tidak ada hajat yang saya minta, kecuali pasti dikabulkan Allah. Semua yang saya minta Allah langsung terima, semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah kabulkan.”
Imam Ahmad pun menanyakan terkait apa doa yang belum dikabulkan itu.
Kata penjual roti tersebut, “Saya meminta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad.”
Seketika, Imam Ahmad kemudian mengucap takbir setelah mendengar pengakuan sang penjual roti. Ia berkata:
“Allahu Akbar! Allah telah mendatangkan saya jauh dari Baghdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong oleh marbot masjid sampai ke jalanan, ternyata karena istighfar dan doamu.”
Penjual roti tersebut terkejut seketika lalu memuji Allah, dan ia langsung memeluk dan mencium tangan imam Ahmad ketika itu.
Kisah ini menjadi hikmah bahwa istigfar akan membawa kelapangan dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Seperti dalam sebuah riwayat:
Artinya: “Barang siapa memperbanyak istigfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir- dan sebagian ulama mendhoifkan hadits ini.)
Demikianlah kisah Imam Ahmad dan istigfar penjual roti, semoga kisah tersebut memberikan hikmah tersendiri untuk kita semua mengenai keutamaan dan pentingnya beristigfar.[*]



