Hong KongWarta Migran

Peluk Jauh Dari HK, Catatan Hari Ibu Untuk Anakku Di Kampung

Hong Kong, BI [24/05] – Menjadi ibu saja sudah tantangan, apalagi menjadi ibu yang bekerja ribuan kilometer dari anak, itu ujian level dewa. Apalagi kalau anak masih balita. Masih rewel minta gendong. Masih nangis kalau tidur nggak dipeluk ibunya.

Tapi karena kebutuhan hidup, semua rasa kangen itu dipaksa nomor dua.

Sebab dapur harus tetap ngebul, sekolah anak harus tetap jalan, dan rumah tangga harus tetap selamat.

Minggu, 10 Mei 2026, jadi hari yang tidak biasa bagi kami, para Ibu di Hong Kong.
Tanggal itu pas Hari Ibu di sini. Tradisinya memang selalu minggu kedua bulan Mei.

Walau jauh dari anak, kami bersyukur masih punya “keluarga kedua”.

Minggu kemarin, kami para PMI kumpul di Northpoint.

Nggak ada kue mahal atau buket bunga.

Yang ada tawa, cerita, dan peluk yang saling menguatkan.

Dari jam 12 siang sampai sore, kami buka-bukaan.

Cerita tentang anak yang tiba-tiba bisa jalan pas kami nggak di rumah.

Cerita tentang suami yang belajar masak biar anak nggak jajan terus.

Cerita tentang video call yang tiba-tiba mati karena anak sudah ketiduran sambil memeluk HP.

Kami saling berbagi cara menjaga kepercayaan.

Caranya sederhana: jujur, kabarin, dan jangan lupa kirim doa tiap malam.

Karena jarak bisa memisahkan badan, tapi tidak boleh memisahkan hati.

Pertemuan makin hangat karena hadir Ketua Komunitas Stand Up Komedi HK, Konde.

Beliau bercerita tentang pengalaman pulang kampung dan mengurus usaha adiknya.

Bagi kami, itu bekal berharga.

Biar nanti kalau waktunya purna, kami nggak bingung mulai dari mana.

Mejanya juga ramai.

Ada sayur asem yang kuahnya bikin kangen emak.

Ada tempe goreng yang kriuknya ngalahin galau.

Ada sambal terasi yang pedasnya mengingatkan: hidup di rantau itu harus kuat.

Bagi Ketua KTLN, Mukhayaroh, tantangan menjadi ibu saat jauh dari anak itu sangat besar.

Tapi semua itu bisa dilalui.

“Selain ada tuntutan dari anak yang ingin kita temani, juga ada rasa tidak tenang kalau kita tidak nekad. Bagaimana masa depan mereka?

Intinya kami merantau untuk masa depan mereka dan memperbaiki ekonomi.

Tapi kadang yang bikin capek itu ketika apa yang kami cita-citakan tidak sesuai harapan.

Jadi ya harus sabar,” ungkap wanita yang biasa dipanggil Micka ini.

Kami mungkin tidak bisa memeluk anak di Hari Ibu.

Tapi kami bisa memeluk harapan: suatu hari nanti, tidak perlu lagi kerja sejauh ini.

Untuk sekarang, biarlah doa dan keringat kami yang memeluk mereka dari Hong Kong.

Selamat Hari Ibu, untuk semua ibu yang pelukannya menembus jarak.(esti)
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Most Voted
Newest Oldest
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Terkait

Back to top button

AdBlock Terdeteksi!

Silahkan matikan / whitelist website ini jika anda menggunakan AdBlock Extension. Iklan dari website ini sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan bisnis kami. Terima Kasih. - Please turn off / whitelist this website if you're using AdBlock Extension. Advertising from this website is vital for the sustainability of our business. Thank You.