
Seorang Anak Perempuan Usia 12 Tahun Meninggal Akibat Influenza
Hong Kong, BI [21/10] – Pusat Perlindungan Kesehatan (Centre for Health Protection) melaporkan kematian seorang anak perempuan berusia 12 tahun yang dinyatakan positif mengidap influenza A (H1).
Ia mengalami demam, batuk, dan diare pada tanggal 17 Oktober, kemudian disertai muntah. Kondisinya memburuk pada malam tanggal 19 Oktober, sehingga ia dibawa ke Unit Gawat Darurat di Rumah Sakit Pamela Youde Nethersole Eastern. Di sana, ia sempat mengalami henti jantung, namun berhasil disadarkan kembali (resusitasi) dan dirawat di unit perawatan intensif anak.
Hasil laboratorium mengonfirmasi infeksi influenza A (H1), dengan diagnosis klinis berupa influenza A yang disertai komplikasi syok septik, koagulasi intravaskular diseminata, dan kegagalan multiorgan. Ia meninggal dunia pada tanggal 20 Oktober.
Penyelidikan awal menunjukkan bahwa ia tidak bepergian selama masa inkubasi dan belum menerima vaksin influenza musiman 2026/27. Salah satu anggota keluarga yang tinggal serumah sempat mengalami gejala ringan pada saluran pernapasan atas, namun tidak memerlukan perawatan di rumah sakit. Kasus ini akan dirujuk kepada koroner untuk penyelidikan lebih lanjut.
Kepala Pusat Perlindungan Kesehatan, Dr. Edwin Tsui Lok-kin, menyatakan bahwa Hong Kong telah memasuki musim influenza sejak akhir Juni, dan tingkat aktivitas virus tersebut masih tetap tinggi setelah hampir empat bulan.
Pada musim ini, tercatat 25 kasus influenza berat pada anak-anak—jumlah yang sama dengan periode yang sama pada musim lalu. Dari jumlah tersebut, 20 anak telah diperbolehkan pulang, satu anak masih dalam kondisi serius, dua anak dalam kondisi kritis, dan dua anak meninggal dunia, termasuk kasus ini. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak meremehkan influenza dan segera melakukan vaksinasi guna membangun perlindungan komunitas serta mengurangi risiko penyakit parah dan kematian.
Dr. Tsui mencatat bahwa analisis data tahun lalu menunjukkan anak-anak yang tidak divaksinasi memiliki risiko sekitar lima kali lebih besar untuk mengalami komplikasi serius atau kematian akibat influenza dibandingkan dengan rekan sebaya yang telah divaksinasi.
Sementara itu, di kalangan penduduk berusia 65 tahun ke atas yang tinggal di panti perawatan, mereka yang tidak divaksinasi memiliki risiko sekitar empat kali lebih besar untuk mengalami penyakit parah dibandingkan dengan penghuni yang telah divaksinasi. Ia menegaskan kembali bahwa, kecuali bagi mereka yang memiliki kontraindikasi medis, setiap orang berusia enam bulan ke atas sebaiknya segera menerima vaksin influenza musiman.
Program vaksinasi 2026/27 telah dimulai pada tanggal 17 September, termasuk inisiatif penjangkauan ke sekolah (School Outreach) yang tahun ini memperkenalkan sistem persetujuan elektronik (e-consent) untuk menyederhanakan administrasi dan memungkinkan pelaksanaan yang lebih awal.
Sekitar 960 sekolah telah menyelenggarakan sesi penjangkauan tersebut, dengan penyelesaian yang diperkirakan tercapai pada pertengahan Desember—kurang lebih dua minggu lebih awal dibandingkan tahun lalu.
Sejak dimulainya tahun ajaran sekolah pada bulan September, tercatat hampir 460 laporan mengenai wabah penyakit menyerupai influenza di berbagai sekolah yang berdampak pada sekitar 2.800 orang; aktivitas flu pun diperkirakan akan tetap tinggi dalam beberapa minggu mendatang.[BI]




