BMKG Prediksi El Nino 2026 Di Jatim Lemah, Tak Sekering 2023

Surabaya, BI [09/04] – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda memprediksi kemarau kering akibat fenomena El Nino di wilayah Jawa Timur pada 2026 berada di kategori lemah hingga moderat.
Hal ini disampaikan Kepala BMKG Juada, Taufiq Hermawan dalam Rapat Koordinasi Penanganan Dampak Hidrometeorologi dan Potensi Bencana Musim Kemarau Tahun 2026 di Surabaya pada Selasa (7/4).
“Tahun 2026 ini karena nilainya masih belum 1 ya, masih 0 koma (sekian yang berarti kategori lemah atau weak). Nah, ini harapannya juga tidak moderat, tidak sampai moderat,” ucap Taufiq.
Sebagai informasi, El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang melampaui kondisi normal. Hal ini memengaruhi pola angin, pembentukan awan, serta curah hujan di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.
Dalam kajian BMKG, El Nino menjadi bagian dari fenomena ENSO yang berdampak global terhadap sistem atmosfer. Pemanasan ini mengubah sirkulasi udara, sehingga distribusi curah hujan tidak merata dan terjadi kekeringan.
Taufiq menjelaskan bahwa ada 3 tingkat kekeringan yang diukur melalui parameter El Nino Southern Oscillation (ENSO), yakni Lemah (Weak): +0.5 – +0.9 °C, Moderat (Moderate): +1.0 – +1.4 °C, dan Kuat (Strong): +1.5 – +1.9 °C.
“El nino pun lemah saja. Meski begitu, antisipasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur sudah sedemikian masif untuk dilakukan untuk mengantisipasi hal tersebut (musim kemarau 2026),” lanjutnya.
Dalam kesempatan yang sama, Taufiq mengatakan kemarau kering akibat fenomena El Nino di Jawa Timur paling parah terjadi pada 2023. Setelah itu, cuaca berangsur membaik dengan tingkat kekeringan bervariasi. [BI]



