
Jakarta, BI [23/04] – China memberlakukan larangan menangkap ikan secara penuh di sepanjang Sungai Yangtze, sungai terpanjang di negara itu, sebagai bagian dari upaya konservasi yang dimulai sejak 2020. Keputusan ini diambil untuk mengatasi penurunan dramatis populasi ikan dan keanekaragaman hayati akibat eksploitasi berlebihan, polusi, dan pembangunan bendungan selama beberapa dekade terakhir.
Larangan tersebut telah menunjukkan hasil awal yang menjanjikan di beberapa bagian sungai. Dalam kajian terbaru, ilmuwan mencatat peningkatan jumlah populasi ikan lokal dan spesies yang langka mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah beberapa tahun tanpa tekanan akibat penangkapan komersial.
Menurut Dr. Bin Yang, seorang penasihat ilmiah dan profesor ekologi perairan di Zhongyuan Institute of Technology, perubahan ini merupakan bukti bahwa kebijakan kuat bisa membawa dampak nyata bagi ekosistem sungai.
“Melindungi Keystone Species (spesies kunci) dan memberikan mereka ruang untuk pulih benar-benar menunjukkan efek positif pada seluruh sistem perairan,” ujar Dr. Yang, dikutip detikINET dari Science Alert.
Selain meningkatnya jumlah ikan, perubahan lain juga tercatat. Spesies lain seperti udang, kepiting, dan berbagai organisme akuatik kecil mulai kembali ke habitat alami mereka, menunjukkan bahwa efek larangan bukan hanya soal ikan komersial, tetapi memperbaiki fungsi ekologi sungai secara luas.
Para peneliti menilai bahwa hasil awal ini bisa menjadi model konservasi penting bagi sungai lain di Asia dan dunia, terutama yang menghadapi tekanan penangkapan ikan berlebih dan degradasi habitat.
Mereka menekankan bahwa meskipun pemulihan ini masih pada tahap awal, larangan menangkap ikan yang komprehensif merupakan langkah besar dalam menyeimbangkan kebutuhan manusia dan kesehatan lingkungan.[BI]



