
Korban Tewas Wabah Ebola Di RD Kongo Melonjak, Tembus 400 Orang
KINSHASA, BI [03/07] – Jumlah korban jiwa akibat wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo telah meningkat hingga melebihi 400 orang, dengan hampir 40 kematian baru tercatat dalam 24 jam terakhir. Demikian menurut pembaruan situasi dari Kementerian Kesehatan pada Kamis (2/7/2026). Jumlah kasus yang dikonfirmasi meningkat menjadi 1.406 kasus, termasuk 438 kematian dengan tingkat kematian 31,2 persen sejak wabah dinyatakan pada 15 Mei.
Wabah tersebut terkonsentrasi di 34 zona kesehatan di Provinsi Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan.
Kementerian mengatakan zona kesehatan ke-24 yang dikenal sebagai Lolwa kini turut terdampak di Provinsi Ituri, yang menjadi pusat wabah saat ini.
Setidaknya 192 orang telah pulih, sementara 609 pasien masih berada dalam isolasi atau dirawat di rumah sakit.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan bahwa angka kematian kasus yang dilaporkan di DRC kemungkinan besar merupakan perkiraan yang kurang tepat. Hal ini karena banyak kematian yang terjadi sebelum deklarasi wabah masih dalam proses penyelidikan, sebagaimana dilaporkan Anadolu.
Otoritas kesehatan menyebutkan ketidakamanan, pergerakan penduduk, penolakan masyarakat, dan tekanan pada fasilitas kesehatan sebagai faktor-faktor yang melemahkan respons terhadap strain Ebola Bundibugyo.
Dua orang, termasuk seorang petugas polisi, tewas pada Selasa, (30/6/2026) dan sebuah pusat perawatan terbakar ketika kekerasan meletus terkait jenazah seorang pria yang diyakini meninggal karena Ebola di Ituri.
Insiden di zona kesehatan Nia-Nia di wilayah Mambasa terjadi setelah sebagian orang menolak menyerahkan jenazah seseorang yang diduga meninggal karena Ebola kepada tim yang bertanggung jawab atas pemakaman yang layak dan aman, menurut media lokal.
Presiden Kongo, Felix Tshisekedi, mengumumkan rencana respons Ebola senilai USD319 juta awal pekan ini.
Sementara itu, para donor dan mitra telah menjanjikan dana sebesar USD910 juta untuk mendukung respons Ebola di Kongo dan Uganda—tempat 20 kasus telah dikonfirmasi—menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC). (Rahman Asmardika)




