
Setiap bulan Agustus, bangsa kita memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Sebuah momen yang sangat berharga dan bersejarah, karena para pahlawan sebelum kita, telah memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan dengan pengorbanan jiwa, raga, harta, dan darah. Kemerdekaan adalah nikmat besar dari Allah (SWT). Maka, sebagai umat Islam, sudah sepatutnya kita mensyukuri nikmat kemerdekaan ini dengan sebenar-benarnya.
Allah (SWT) berfirman dalam Al-Qur’an surat Ibrahim ayat 7: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat-Ku) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras”. (QS Ibrahim: 7).
Kemerdekaan adalah nikmat, dan setiap nikmat wajib disyukuri. Namun bentuk syukur bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah”, melainkan dibuktikan dengan sikap, perbuatan, dan tanggung jawab.
Jangan pernah merasa bahwa kemerdekaan ini hanya hasil dari kekuatan manusia. Betul, para pejuang telah berjuang dengan darah dan nyawa, namun semua itu terjadi karena pertolongan Allah (SWT). Tanpa izin Allah, tak akan ada kemenangan. Allah (SWT) berfirman:” Allah tidak menjadikannya (bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana (QS Al-Anfal: 10).
Oleh karena itu, jangan sampai kita melupakan Allah dalam menikmati kemerdekaan ini. Jangan sampai kita merasa cukup dengan dunia, lalu melupakan syariat-Nya.
Tujuan kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajah, tetapi bebas untuk menegakkan kebaikan dan keadilan. Merdeka dari kekufuran menuju cahaya iman. Merdeka dari kezaliman menuju kebenaran. Allah (SWT) berfirman:” (Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kemantapan (hidup) di bumi, mereka menegakkan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan”. (QS Al-Hajj: 41).
Ini adalah gambaran dari masyarakat merdeka yang bersyukur: mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menegakkan keadilan dan menebar rahmat.
Sungguh miris jika kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah dan nyawa, justru diisi dengan perbuatan maksiat dan kemungkaran: korupsi, perzinaan, narkoba, penipuan, kemalasan, dan sebagainya. Ini adalah bentuk kufur nikmat! Bahkan lebih parah dari penjajahan, karena penjajahan batin dan akhlak akan menghancurkan bangsa lebih cepat daripada penjajahan fisik.
Jika para pejuang dahulu berkorban demi kemerdekaan, maka tugas kita hari ini adalah menjaga dan mengisi kemerdekaan dengan amal saleh, akhlak mulia, kerja keras, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemerdekaan bukan akhir perjuangan, tapi awal dari tanggung jawab sebagai khalifah di bumi. Kita harus menjadikan negeri ini baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang baik, yang diberkahi Allah.
Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah amanah dari Allah (SWT) dan warisan dari para syuhada dan pejuang terdahulu. Maka jangan kita khianati dengan kemalasan, kefakiran iman, dan perbuatan maksiat.
Bentuk mensyukuri kemerdekaan ini bisa dengan menjadi warga negara yang baik dan taat hukum, menjaga persatuan dan kerukunan umat, menjadi teladan dalam akhlak, kejujuran, dan kerja keras, mendidik anak-anak kita dengan nilai-nilai Islam dan nasionalisme, dan berkontribusi membangun negeri ini dengan amal dan ilmu.
Ingatlah bahwa syukur yang sejati akan membawa keberkahan dan perlindungan dari Allah, sementara kufur nikmat hanya akan membawa kehancuran. Allah (SWT) berfirman:”Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat”. (QS An-Nahl: 90).
Semoga Allah (SWT) senantiasa memberikan keberkahan untuk negara Indonesia ini, dijaga dari perpecahan, diberi pemimpin yang adil, dan dilindungi dari segala bentuk penjajahan baru baik lahir maupun batin.[*]




