Nasional

Indonesia Merugi Hingga Rp123 Triliun Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan

Jakarta, BI [17/10] – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyebabkan sejumlah sektor mengalami kerugian. Khususnya, kesehatan, lingkungan, dan sosial. Bahkan, finansial masyarakat Sumatra Selatan juga turut menerima imbas dalam kondisi finansial. Apalagi, Sumsel jadi salah satu wilayah penyumbang karhutla terbesar.

‘Dari proyeksi CELIOS (Center of Law and Economic Studies), total kerugian ekonomi dan kesehatan akibat karhutla periode Januari–Agustus 2026 diperkirakan mencapai Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun,” ujar pengamat ekonomi dari Universitas Sriwijaya Sukanto, dikutip Jumat (16/10).

Menurut beberapa studi, total kerugian rata-rata wilayah yang terdampak karhutla berada di kisaran Rp40 triliun hingga ratusan triliun. Berdasarkan rincian simulasi menengah, potensi kerugian berada pada rentang Rp40-60 triliun akibat kehilangan aset fisik, gangguan aktivitas ekonomi dan biaya penanganan.

Lebih lanjut, Sukanto menyampaikan, pada skala yang lebih besar, biaya kerugian juga diperkirakan lebih besar.

“Efeknya, karhutla membuat banyak sektor terdampak langsung dan tidak langsung, sehingga menimbulkan kerugian langsung dan tidak langsung,” kata dia.

Sukanto menambahkan, dampak karhutla berpotensi menekan aktivitas pertemuan ekonomi di wilayah Sumsel pada kuartal III tahun 2026, mengingat fenomena ini telah berlangsung selama beberapa bulan dan bertepatan dengan periode kuartal ketiga.

Dia menambahkan, dampak langsung karhutla berupa gangguan kabut asap beruntun dan telah mengganggu lebih dari 150 jadwal penerbangan hingga menyebabkan kerugian signifikan bagi maskapai.

“Kerugian ini juga dirasakan penumpang. Kondisi seperti ini harus diantisipasi agar tidak terulang pada tahun-tahun mendatang,” jelas dia.

Dari sisi domino, efek karhutla, kata Sukanto, berimbas pada sektor kesehatan yang terganggu. Peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah persoalan utama. Kemudian, dari segi kesehatan dan pendidikan, perkembangan anak-anak juga terganggu.

“Termasuk sektor sosial mengalami kerugian ekonomi baik di sektor transportasi udara, darat, juga sungai terdampak,” katanya.

Sukanto menyampaikan, di sektor pariwisata angka kunjungan wisatawan ke Sumsel juga menunjukkan kurva ke bawah. Akibat berbagai kerugian itu, pemerintah seharusnya bisa mencegah karhutla agar tidak terjadi. Namun, secara struktural, karhutla dianggap sebagai kondisi biasa dan dinormalisasi.

Sebelumnya, BMKG telah memprediksi kemarau pada 2026 bukan kemarau reguler, melainkan diperparah oleh fenomena El Niño dengan intensitas ekstrem atau dijuluki El Niño Godzilla. Kondisi itu berdampak pada kekeringan berlebih dan meningkatkan potensi karhutla.[BI]

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Most Voted
Newest Oldest

Artikel Terkait

Back to top button

AdBlock Terdeteksi!

Silahkan matikan / whitelist website ini jika anda menggunakan AdBlock Extension. Iklan dari website ini sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan bisnis kami. Terima Kasih. - Please turn off / whitelist this website if you're using AdBlock Extension. Advertising from this website is vital for the sustainability of our business. Thank You.