
Jakarta, BI [02/010] – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia disebut tidak hanya dirasakan masyarakat di sekitar lokasi kebakaran. Greenpeace Indonesia menyoroti pergerakan asap yang disebut telah melampaui wilayah sumber kebakaran hingga mencapai sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers Koalisi Indonesia Tanpa Polusi di Jakarta, Kamis (1/10). Dalam kesempatan itu, koalisi menyoroti kondisi karhutla sepanjang 2026 yang dinilai telah meluas ke berbagai wilayah Indonesia.
Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Belgis Habiba mengatakan pemantauan yang dilakukan pihaknya menunjukkan adanya pergerakan asap dari wilayah terdampak karhutla menuju kawasan di luar Indonesia.
Dia menegaskan bahwa karhutla tahun ini adalah mesin pencetak polusi udara yang mematikan. Sepanjang Agustus-20 September 2026, pihaknya telah mengidentifikasi 3.2131 titik sumber asap di Kalimantan yang sebagian besar di lanskap gambut dan 894 titik di Sumatera.
“Pemantauan kami juga membuktikan pergerakan asap beracun ini telah melampaui wilayah titik sumber asap, bahkan menunjukkan pergerakan lintas batas menuju Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Vietnam dan Kamboja. Jutaan warga kini dipaksa menghirup udara beracun, dan pemerintah tidak bisa lagi melihat ini hanya sebagai masalah di hulu saja,” kata Belgis.
Selain persoalan asap lintas batas, koalisi juga menyoroti dampak polusi udara yang ditimbulkan karhutla terhadap masyarakat. Berdasarkan data yang disampaikan dalam konferensi pers tersebut, Kementerian Kesehatan mencatat 113.336 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di 63 kabupaten/kota terdampak. Sebanyak 26.545 kasus di antaranya terjadi pada anak usia balita.
Bahkan, untuk di Indonesia sendiri, Koalisi Indonesia Tanpa Polusi menyebut karhutla sepanjang 2026 tidak lagi hanya terpusat di Sumatra dan Kalimantan. Sebaran kejadian juga disebut telah meluas secara sporadis ke Jawa, Bali-Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Tanah Papua.
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla SiPongi Kementerian Kehutanan, luas areal karhutla Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 202.004,30 hektare. Angka tersebut meningkat 69 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Koalisi Indonesia Tanpa Polusi meminta pemerintah mengubah pola penanganan karhutla agar tidak sebatas mengandalkan pemadaman setelah kebakaran meluas.
Selain itu, koalisi mendorong pemerintah memperkuat keterbukaan data mengenai izin konsesi, menghentikan kerusakan ekosistem gambut, menindak pihak yang melakukan pembakaran lahan, serta memberikan perlindungan kesehatan bagi kelompok rentan yang terdampak polusi asap.[JP/BI]




