
Baiknya amal yang kita lakukan adalah sangat tergantung kepada baiknya hati. Dan baiknya hati sangat tergantung kepada istiqamahnya diri untuk selalu dekat dengan Allah.
Istiqamah dalam kebaikan adalah hal yang sangat penting dalam hidup ini. Sebab, sebuah amal yang dilakukan secara istiqamah, walaupun kecil, perlahan tapi pasti, akan jauh dan lebih mendekatkan kita kepada Allah Robbul ‘alamin. Karena itu, tidak ada amal kecil menurut pandangan Allah. Yang menentukan besar kecilnya sebuah amal adalah keikhlasan hati seseorang saat melakukannya.
Ada sebuah kisah tentang mimpi hujjatul Islam Imam Al-Ghazali. Pada suatu malam, beliau bermimpi di mana beliau berada dalam satu perhimpunan besar yang dinamakan yaumul hisab. Beliau melihat, dari sekian banyak amalnya yang diperlihatkan itu, ada satu amal yang sangat disukai Allah melebihi dari amal-amal yang lainnya. Ternyata sangat mengejutkannya. Ia bukan kewajiban salat, puasa dan lain sebagainya, namun yang dia lihat adalah karena keikhlasannya menolong seekor lalat.
Ceritanya, di saat ia sedang menulis, tiba-tiba seekor lalat jatuh kedalam botol tintanya. Imam al-Ghazali lantas mengambil lalat itu dengan segera, lalu membersihkan tinta dari tubuhnya, setelah itu beliau melepaskannya.
Kisah remeh ini tentunya jangan sampai kita mengecilkan arti ibadah, menuntut dan menyebarkan ilmu, atau berjihad fi sabilillah. Kisah ini semata-mata menunjukkan betapa sesuatu yang kita anggap sepele, akan tetapi bisa bernilai istimewa dan pahala berganda di sisi Allah.
Karena itu, orang yang benar-benar ikhlas tidak akan pusing memikirkan besar kecilnya amal. Yang difikirkannya adalah bagaimana agar amal tersebut diterima di sisi Allah dan bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya umat manusia.
Sejatinya, tidak ada sesuatupun yang besar di dunia ini tanpa kehadiran benda yang kecil. Semua benda dan barang yang besar pasti tersusun dari hal-hal yang kecil. Buku misalnya, ia adalah kumpulan bab. Bab adalah kumpulan paragraph. Paragraph adalah kumpulan kalimat. Kalimat adalah kumpulan kata. Kata adalah kumpulan huruf dan huruf adalah kumpulan titik. Maka setebal apapun buku, pada hakikatnya adalah kumpulan dari titik-titik kecil.
Demikian pula dengan kesalehan dan kemuliaan akhlak. Ia adalah kumpulan dari amal kebaikan yang dilakukan secara terus-menerus dengan penuh keikhlasan. Seseorang yang dianggap ahli tahajjud itu apabila setiap malamnya ia istiqamah menjalankannya walaupun hanya satu atau dua rakaat. Sebaliknya, kita sulit menyebutnya sebagai ahli tahajjud bila ia hanya melakukannya sesekali saja. Intinya, akhlak mulia lahir dari kebiasaan, kebiasaan lahir dari istiqamah kita menjalankan sesebuah amal, walau amal itu kita anggap ringan dan kecil.
Bila yang besar itu merupakan hasil dari yang kecil, maka kita jangan sekali-kali menyepelekan yang kecil. Sebaliknya, kita harus membiasakan diri melakukan hal-hal kecil secara istiqamah, selain menjalankan perintah-perintah Allah yang wajib dan amal besar lainnya.
Senyum dengan tulus jika bertemu saudara adalah hal kecil yang nilai kebaikannya luar biasa. Termasuk pula memungut sampah, membersihkan kamar mandi, mengongkosi teman, berbagi makanan, meminjamkan buku, menge-share postingan bermanfaat, menengok orang sakit, memaafkan orang yang bersalah, bersedekah dan lain sebagainya. Andai kita istiqamah melakukannya, jangan heran bila Allah akan mengangkat derajat kita di hadapan manusia lain.
Ada baiknya kita mulai membuat program untuk membiasakan diri melakukan hal-hal kecil bernilai ibadah. Saat bangun, istiqamahlah berzikir, menjaga wudu, menyapa orang, tersenyum manis. Saat akan beraktivitas dahului dengan basmalah dan sudahi dengan hamdalah.
Kita harus memiliki kepekaan terhadap amal, yang bukan saja peka terhadap amal-amal yang besar, namun peka pula terhadap amal-amal yang kecil dan sepele. Tidak satupun yang besar, kecuali diawali dengan sesuatu yang kecil. Semegah apapun gedung pastilah ia tersusun dari batu-bata dan besi yang kecil. Hal ini telah diperingatkan Allah dalam firman-Nya :”Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya pula (Azzalzalah: 7-8)
Oleh sebab itu, janganlah kita mengabaikan kebaikan sekecil apapun dan juga jangan menganggap remeh keburukan sekecil apapun. Kita harus selalu waspada terhadap semua hal kecil yang bisa menjadi amal pahala atau sebaliknya menjadi amalan dosa. Kecil menurut kita, belum tentu kecil dalam pandangan Allah. Nabi saw mengingatkan kita semua:”janganlah kamu memandang besar atau kecilnya maksiat. Tapi pandanglah kepada siapa kamu bermaksiat.”
Adalah sangat bijak apabila kita tidak membanding-bandingkan sebuah amal dengan amal lainnya. Allah tidak melihat dari besar kecilnya sebuah amal. Allah hanya melihat nilai keikhlasan dan keistiqamahan seorang hamba dalam melakukannya. Boleh jadi, dalam pandangan manusia, amal yang kita lakukan terlihat sepele dan rendah nilainya tapi dalam pandangan Allah nilainya sangat besar. Begitupun sebaliknya, kita melakukan sebuah amal yang besar dalam pandangan manusia, tetapi teramat kecil nilainya dalam pandangan Allah.
Memungut benda yang berbahaya dari jalan dan memasukkannya ke dalam tong sampah, tampaknya sepele, akan tetapi akan bernilai luar biasa bila dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah. Sungguh! Kitapun bisa jadi mulia karena hal-hal kecil dan sepele seperti mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah membantu kita, meminta maaf jika tersalah, mendahului ucapan salam, melempar senyuman dengan ikhlas, mempermudah urusan orang ataupun menunjukkan raut wajah yang ceria kepada orang lain.
Kepekaan terhadap amal akan menunjukkan seberapa baik kualitas diri kita ini. Rasulullah saw adalah peribadi yang sangat peka terhadap kebaikan atau dosa sekecil apapun, hingga beliau menjadi orang yang sangat berkualitas.
Semoga kita semua akan senantiasa beristiqamah dalam apapun jua keadaan sehingga kita akan termasuk kedalam hamba-hamba Allah yang mustaqimin.




