Legenda

Tombak Sakti Petani Dan Watu Maladong Dari Nusa Tenggara Timur

Alkisah ada seorang petani yang tinggal sendirian di Pulau Sumba. Ia rajin merawat kebunnya hingga sehat nan subur. Betapa kagetnya petani saat suatu pagi menemukan kebun kesayangannya porak-poranda. Setelah ditelusuri, ia menemukan jejak babi hutan, meski rasanya tak mungkin karena kebun miliknya dikelilingi pagar yang tinggi.

Rasa penasaran dan kesal membuat petani memutuskan mengintai kebunnya untuk menangkap basah pelaku perusak. Tak lupa ia membawa tombak sakti pemberian turun-temurun dari leluhur, Numbu Ranggata. Tanpa sang petani tahu, tombak ini bisa memecah langit menjadi petir yang akan menyerang lawan sang pemilik. Namun di tangannya, tombak itu hanyalah sebilah senjata runcing biasa.

Hari semakin malam, setelah lama menunggu akhirnya ia memergoki kawanan babi hutan yang menyerang kebunnya. Benar saja, tak seperti babi hutan biasa yang akan putar balik saat melihat pagar, jenis satu ini malah melompati pagar dengan mudahnya. Kaget sekaligus panik, petani langsung melempar tombak ke seekor babi hutan yang berjarak paling dekat dari tempat persembunyiannya hingga menancap di bagian perut sebelah kanan. Babi hutan itu mengerang kesakitan dan kabur dengan begitu cepat sekaligus membuat kawanannya kaget.

Petani merasa percuma mengejar babi hutan itu di malam hari, tapi ia harus mendapatkan tombaknya kembali agar tidak terkena kutukan leluhur. Saat matahari mulai terbit, petani segera mengikuti jejak kaki dan darah babi hutan yang kabur bersama tombak warisannya.

***

Sang petani jauh-jauh mengikuti jejak si babi hutan hingga sampai ke tepi pantai. Namun anehnya, jejak itu hilang begitu saja. Pikirnya, itu mustahil. Karena berarti para babi hutan itu terbang atau berenang ke pulau seberang, saat salah satu di antaranya luka berat. Tapi tak ada tubuh babi tergeletak di sepanjang perjalanan sang petani menelusuri jejak. Artinya, babi yang terluka itu pasti ikut menyeberang.

Masih termangu, tiba-tiba terdengar suara besar dari belakang petani menanyakan kenapa dia terlihat bingung. Saat menengok, mengangalah mulut petani mengetahui yang berbicara adalah sosok siluman penyu setinggi tebing. Sambil gemetar, ia pun menanyakan kepada siluman penyu mengenai komplotan babi hutan yang sedang dicarinya. Untuk menjawab pertanyaannya, siluman penyu meminta petani naik ke atas punggungnya untuk menyeberang ke pulau lain. Meski ragu, sang petani pun menurutinya. Ternyata rasa takutnya pada kutukan leluhur lebih besar daripada sekadar berinteraksi dengan siluman.

Sesampainya di pulau seberang, siluman penyu mempersilakan petani turun dan menyelesaikan tujuannya. Jika nanti memerlukan bantuan lagi untuk pulang, petani tinggal naik ke atas pohon kelapa dan memanggil siluman penyu sekencang-kencangnya, ia akan datang. Maka berpisahlah mereka setelah petani mengucapkan terima kasih.

***

Tak tahu harus mulai dari mana, petani menuju ke satu-satunya pondok di pesisir pantai. Di sana ia bertemu dengan tuan rumah seorang wanita tua yang tinggal sendirian. Pikirnya jika komplotan babi itu menyeberang dengan siluman penyu setiap malam, pasti nenek sempat melihat mereka sesekali.

Benar saja, nenek mengatakan jika babi hutan yang dikisahkan oleh sang petani memang berasal dari pulau tempat tinggalnya. Namun itu bukan babi hutan biasa, melainkan sekelompok orang berilmu yang bisa berubah bentuk. Mereka pergi ke pulau seberang untuk mencuri dan memperkaya diri. Hingga kini menjadi komplotan paling berkuasa di pulau itu.

Nenek memperingatkan bahwa mereka sungguh sakti, tak mungkin petani bisa mendapatkan Numbu Ranggata dengan mudah. Tapi nenek bersedia mengajarkan beberapa jurus yang bisa membantu petani dalam perjalanannya. Ternyata nenek adalah petarung sakti yang memilih untuk menyepi. Dia merasa hari tuanya lebih berguna jika bisa mengajar bela diri pada murid pilihannya.

Beberapa hari berlalu hingga petani menguasai sedikit jurus nenek yang diturunkan padanya. Sebelum melanjutkan perjalanan, nenek memberi ramuan ajaib buatannya dan petuah untuk meminta imbalan Numbu Ranggata dan batu sakral Watu Maladong pada babi hutan yang ia lukai. Katanya Watu Maladong lebih baik jika dimiliki orang jujur seperti petani.

Bertolaklah petani ke desa terdekat, tempat para babi hutan incarannya tinggal. Setelah mendapat pekerjaan di salah satu rumah warga, ia mendengar perbincangan mengenai Kepala Desa yang terluka parah di bagian perut tetapi lukanya tak kunjung menutup. Setiap hari darah segar mengalir hingga Kepala Desa selalu mengerang kesakitan.

***

Mendengar omongan warga, petani yakin jika Kepala Desa itu adalah babi hutan yang berhasil ia lukai tempo hari. Petani segera menuju ke rumah Kepala Desa untuk mengambil kembali Numbu Ranggata. Sesampainya, petani langsung bertanya apakah luka di perut Kepala Desa berasal dari tikaman tombak. Pertanyaan ini membuat Kepala Desa dan pengikutnya kaget, karena tak ada seorang pun dari mereka yang membocorkan kejadian malam itu. Karena pertanyaannya, sang petani dianggap sebagai dukun sakti dan dimohon segera mengobati Kepala Desa yang sudah tak berdaya.

Sesuai petuah nenek, sebelum memberi ramuan yang nenek buatkan, petani lebih dulu meminta imbalan tombak yang melukai Kepala Desa dan Watu Maladong. Permintaan ini dianggap Kepala Desa berlebihan, tetapi ia sudah putus asa. Akhirnya Kepala Desa setuju dan terjadilah perjanjian sakral antar keduanya.

Ajaib! Ramuan nenek berhasil menyembuhkan perut Kepala Desa segera setelah dioleskan. Kepala Desa dan pengikutnya langsung kegirangan. Sambil menyerahkan Numbu Ranggata, Kepala Desa bertanya bagaimana petani bisa mengetahui kejadian rahasia itu. Petani yang sudah memegang tombak leluhur warisannya kemudian mengaku bahwa ia yang menghujam Kepala Desa dengan tombak itu beberapa hari yang lalu.

Merasa dibodohi, Kepala Desa murka bukan main! Tapi di sisi lain ia sudah membuat perjanjian sakral yang tak boleh diingkari. Demi mempertahankan harga dirinya, Kepala Desa mengajak petani bertarung. Jika petani menang, ia akan mendapatkan Watu Maladong.

watu maladong

Petani menang dan Kepala desa mengakui kehebatannya. Ia pun menyerahkan Watu Maladong karena menganggap petani bisa menjaganya.

Kepala Desa menjelaskan jika batu Watu Maladong ada tiga butir. Dua butir berjenis laki-laki yang akan memberi padi dan jagung. Satu butir lainnya berjenis perempuan dan akan memberi jewawut, tanaman serealia yang biasa dikenal juga dengan nama sekoi. Ketiganya bersama-sama akan memanggil sumber air yang tidak pernah habis.

Segera petani memberikan tugas Watu Maladong untuk mencari sumber air. Ketiga batu pun berkeliling sambil membentuk empat mata air yakni mata air Nyura Lele di Tambolaka, mata air Weetebula di desa Weetebula, mata air Wee Muu di perbatasan Wewewa Barat dan Wewewa Timur, serta mata air Weekello Sawah di dalam gua alam daerah Wewewa Timur.

Selanjutnya, petani menugaskan Watu Maladong menumbuhkan sumber daya alam. Berpencarlah ketiganya menumbuhkan ladang padi, jagung, dan jewawut di beberapa kawasan Pulau Sumba. Setelah selesai, mereka kembali pada tuannya.

Dirasa telah cukup memberi keajaiban pada alam setempat dan sekitarnya, nenek menyarankan agar batu-batu itu berpencar sehingga tidak bisa dicuri orang. Akhirnya petani menyuruh ketiganya mencari tempat aman dan bersembunyi selamanya. Konon, satu batu laki-laki penumbuh jagung memilih bersembunyi di Bondo Kodi, sedangkan dua lainnya di dasar laut Samudera Hindia.

(Sumber: https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/cerita-rakyat-nusa-tenggara-timur-legenda-watu-maladong/)
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Most Voted
Newest Oldest

Artikel Terkait

Back to top button

AdBlock Terdeteksi!

Silahkan matikan / whitelist website ini jika anda menggunakan AdBlock Extension. Iklan dari website ini sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan bisnis kami. Terima Kasih. - Please turn off / whitelist this website if you're using AdBlock Extension. Advertising from this website is vital for the sustainability of our business. Thank You.