Hong Kong

Kebiasaan Hidup Hemat Orang Hong Kong Telah Menjadi Budaya

Hong Kong, BI [15/06] – Perbedaan budaya dalam pengeluaran sehari-hari sekali lagi menjadi bahan pembicaraan daring, setelah seorang pengguna media sosial daratan Tiongkok memicu perdebatan dengan sebuah uraian tentang apa yang mereka gambarkan sebagai pendekatan pragmatis yang tak terduga dari warga Hong Kong dalam menabung.

Menulis di platform gaya hidup Xiaohongshu dengan judul “Cara Warga Hong Kong Menghemat Uang yang Tak Pernah Terbayangkan Warga Tiongkok Daratan”, penulis tersebut menceritakan pengamatan pribadinya terhadap teman-temannya yang bekerja di Central.

Diskusi dimulai dengan setelan jas yang rapi yang dikenakan oleh salah satu profesional tersebut. Setelah diteliti lebih lanjut, jas tersebut—yang awalnya berharga HK$8.000—telah dibeli hanya dengan harga HK$800 dari toko barang bekas di Jepang. Perbedaan harga yang mencolok, kata penulis, mendorong pengamatan lebih dalam terhadap budaya pengeluaran kota tersebut.

Menurut unggahan tersebut, empat kebiasaan utama menonjol. Pertama adalah kesediaan di antara mereka yang berpenghasilan tinggi untuk menerima barang bekas. Penulis mengklaim bahwa para profesional bergaji tinggi di Central secara teratur menjelajahi butik barang bekas untuk mencari barang-barang desainer, melihat penghematan sebagai tanda kecerdasan finansial daripada rasa malu.

Seperti yang diungkapkan dalam sebuah komentar, membayar harga penuh dianggap lebih memalukan daripada membeli barang bekas.

Ciri kedua yang diidentifikasi adalah keengganan untuk memiliki mobil. Mengingat biaya parkir, asuransi, dan perawatan yang tinggi di Hong Kong, banyak penduduk lebih memilih untuk mengandalkan jaringan transportasi umum kota yang luas. Bahkan perjalanan taksi yang sering, menurut penulis, secara keseluruhan dapat lebih murah daripada memelihara kendaraan pribadi.

Pengamatan ketiga berpusat pada strategi supermarket. Pembeli dikatakan menghafal jadwal diskon, dengan para pekerja kantor dilaporkan menunggu di dekat konter pendingin di malam hari untuk mendapatkan potongan harga.

Barang-barang seperti sushi dan salad dapat didiskon setengah harga setelah pukul 8 malam, mengubah belanja bahan makanan sehari-hari menjadi latihan perhitungan waktu.

Terakhir, tulisan tersebut menunjukkan bahwa banyak warga Hong Kong lebih menyukai pembayaran tunai. Penulis berpendapat bahwa menangani uang kertas fisik menciptakan sensasi nyata pengeluaran yang mendorong pengendalian diri, berbeda dengan kemudahan transaksi digital atau kartu.

Refleksi tersebut dengan cepat menimbulkan beragam reaksi. Beberapa komentator setuju, memuji efisiensi sistem transportasi Hong Kong dan mencatat bahwa pakaian bekas di Hong Kong dan Jepang seringkali dalam kondisi hampir baru. Namun, yang lain menantang generalisasi tersebut.

Sejumlah orang berpendapat bahwa mengantre untuk mendapatkan diskon supermarket dan membayar tunai lebih umum di kalangan generasi yang lebih tua, sementara penduduk yang lebih muda lebih memilih kartu kredit untuk mengumpulkan poin hadiah.

Ada juga suara-suara yang berbeda pendapat yang menyatakan bahwa penghematan mungkin didorong bukan oleh filosofi, melainkan oleh tekanan ekonomi.

“Jika hidup itu mudah, siapa yang akan membeli barang bekas?” komentar seorang pengguna, sementara yang lain menyindir bahwa cara yang lebih sederhana untuk menghemat uang saat ini adalah dengan bepergian ke utara perbatasan untuk mendapatkan barang dan jasa yang lebih murah.[BI]

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Most Voted
Newest Oldest

Artikel Terkait

Back to top button

AdBlock Terdeteksi!

Silahkan matikan / whitelist website ini jika anda menggunakan AdBlock Extension. Iklan dari website ini sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan bisnis kami. Terima Kasih. - Please turn off / whitelist this website if you're using AdBlock Extension. Advertising from this website is vital for the sustainability of our business. Thank You.