Tausiah

Menjadi Hamba Allah Yang Terbaik

Penulis : Ustad Muhaemin Karim

Setiap insan di dunia ini pasti menginginkan untuk menjadi manusia yang terbaik, yang dihargai, yang bermanfaat, dan yang dikenang karena amal-amalnya.

Keinginan itu bukan sekadar dorongan emosional, tetapi merupakan fitrah yang Allah tanamkan dalam diri manusia. Bahkan, Allah sendiri menegaskan dalam firman-Nya bahwa hidup dan mati ini bukan tanpa tujuan, melainkan sebuah ujian untuk melihat siapa yang paling baik amalnya. Allah SWT berfirman: “Dialah (Allah) yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Allah (SWT) telah menciptakan kematian dan kehidupan agar manusia bermuamalah, beribadah dengan ikhlas, taat tanpa batas, dan memperlihatkan kualitas amal terbaiknya.

Allah (SWT) itu Perkasa, tiada yang lebih kuat dari-Nya. Namun, Dia juga Maha Pengampun bagi siapa saja yang ingin kembali dengan ketulusan.

Manusia berlomba menjadi yang terbaik dalam banyak hal. Namun standar “terbaik” yang diajarkan Rasulullah (SAW) sangat berbeda dari standar dunia lainnya. Terbaik dalam pandangan Allah bukanlah yang paling terkenal, yang paling kaya, atau yang paling banyak pujian manusia, tetapi yang paling indah amal dan akhlaknya.

Seorang Arab Badui pernah bertanya kepada Rasulullah (SAW): “Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?” Beliau menjawab: “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (HR. Tirmidzi). Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW menjelaskan: “…yang paling baik akhlaknya.” Dan ketika ditanya siapa yang paling cerdas, Rasulullah (SAW) menjawab: “Yang paling banyak mengingat kematian, dan paling siap menghadapi kehidupan setelahnya; merekalah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah)

Ada beberapa langkah serta jalan agar seseorang itu bisa menjadi manusia terbaik, sebagaimana yang telah dituntunkan oleh Rasulullah (SAW) seperti berikut:

Pertama: Insan yang terbaik adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya

Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Bukan hanya belajar, tetapi juga mengajarkan. Ilmu menjadi mulia ketika dibagikan. Rasulullah (SAW) menegaskan bahwa orang yang mengawali suatu kebaikan dan diikuti banyak orang setelahnya, akan memperoleh pahala yang sama tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Beliau bersabda: “Barangsiapa memulai suatu amalan kebaikan dalam Islam, lalu diamalkan oleh orang setelahnya, maka ia mendapatkan ganjaran semisal mereka…” (HR. Muslim, no. 1017)

Mengajar Al-Qur’an adalah pekerjaan yang pahalanya mengalir tanpa henti.

Kedua: Orang yang terbaik adalah orang yang paling baik kepada keluarganya

Rasulullah (SAW) bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah (SAW) bekerja membantu keluarganya, nenjahit pakaiannya, memperbaiki sandalnya, memerah susu kambingnya, bahkan berbelanja untuk kebutuhan rumah tangganya. Beliau mengajarkan bahwa kemuliaan seorang suami bukan diukur dari kekuasaan, tetapi dari kasih sayang, pelayanan, dan kepedulian terhadap keluarganya.

Ketiga: Orang yang terbaik adalah yang diharapkan kebaikannya, dan dihindarkan dari keburukannya

Rasulullah (SAW) bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari keburukannya.”(HR. Tirmidzi)

Orang terbaik bukan hanya bermanfaat, tetapi juga mampu mengendalikan sisi buruk dirinya. Ia tidak menyakiti dengan lisan, tulisan, atau pun perbuatan. Keberadaannya menenangkan dan menyenangkan orang yang berada di sekelilingnya.

Keempat: Orang yang terbaik adalah yang gemar memberi makan

Dalam riwayat Imam Ahmad, Nabi (SAW) bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang memberikan makanan.” (HR. Ahmad)

Memberi makan adalah amalan sosial yang berdampak langsung. Memberi makan meredakan lapar, menghidupkan harapan, dan menebarkan kasih sayang.

Rasulullah (SAW) menyebutkan bahwa di surga kelak ada kamar-kamar istimewa untuk orang yang berkata benar, memberi makan, berpuasa, serta bangun malam.

Kelima: Orang yang terbaik adalah yang paling baik membayar hutangnya

Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam hal membayar hutang.” (HR. Bukhari-Muslim)

Pembayar utang yang baik adalah yang menepati janji tanpa membuat gusar orang yang telah menolongnya. Di sisi lain, pengemplang hutang adalah orang yang merusak kepercayaan. Maka menjadi manusia terbaik juga berarti menjaga amanah dalam urusan finansialnya.

Semua jalan menuju kebaikan terbuka luas untuk siapa saja, tanpa memandang status sosial, latar pendidikan, atau jabatan. Rasulullah (SAW) menegaskan kembali dalam hadits Jabir RA:“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. al-Albani dalam Shahihul Jami’, no. 3289)

Menjadi manusia terbaik adalah tentang manfaat, bukan kemegahan. Ia tentang akhlak, bukan popularitas. Ia adalah tentang kesungguhan amal, bukan panjangnya gelar. Manusia terbaik adalah tentang ketulusan hidup, bukan banyaknya pengikut dan pengakuan.

 

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Most Voted
Newest Oldest

Artikel Terkait

Lihat Juga Berita Ini :
Close
Back to top button

AdBlock Terdeteksi!

Silahkan matikan / whitelist website ini jika anda menggunakan AdBlock Extension. Iklan dari website ini sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan bisnis kami. Terima Kasih. - Please turn off / whitelist this website if you're using AdBlock Extension. Advertising from this website is vital for the sustainability of our business. Thank You.