
KMTH Hong Kong Gelar Kelas Public Speaking Eksklusif Di Wan Chai
Hong Kong, BI [20/09] – Kemampuan berbicara di depan umum kini menjadi bekal penting bagi para Pekerja Migran Indonesia (PMI). Menjawab kebutuhan tersebut, Tim KMTH Hong Kong menggelar Kelas Public Speaking sesi pertama di Gedung The Zenith, Conference Room, Wan Chai, pada Minggu, 13 September 2026, pukul 10.00 – 13.00.
Kelas eksklusif ini diikuti oleh 15 peserta yang terdiri dari anggota KMTH dan umum. Sejak awal sesi, para peserta tampak antusias mengikuti setiap materi. Kegiatan ini bertujuan melatih peserta agar mampu mengatasi rasa gugup dan menyampaikan ide secara terstruktur, lugas, dan memikat.
Materi disampaikan langsung oleh Ketua Umum KMTH, Maryanti, S.H. Dengan gaya penyampaian yang hangat dan komunikatif, ia mengajak peserta untuk tidak hanya berani berbicara, tetapi juga mampu memikat perhatian audiens sejak kalimat pertama.
“Jangan biarkan rasa gugup mengubur ide-ide hebat kalian. Public speaking itu bukan bakat, tapi keterampilan yang bisa dilatih. Setiap PMI punya cerita dan pengalaman berharga yang layak untuk didengar,” ujar Maryanti di sela-sesi pelatihan.
Dalam tiga jam pelatihan, peserta dibekali empat materi utama yang menjadi fondasi public speaking:
1. Persiapan adalah Kunci
Persiapan adalah fondasi penentu keberhasilan komunikasi. Peserta diajarkan untuk menguasai materi, mengenali karakter audiens, serta berlatih secara berulang hingga percaya diri.
2. Mengelola Demam Panggung
Demam panggung adalah hal yang wajar, namun bisa dikelola. Peserta dilatih untuk mengubah mindset, menguasai materi, datang lebih awal, dan mengatur pernapasan agar tubuh dan pikiran tetap tenang di bawah tekanan.
3. Bahasa Tubuh
Komunikasi tidak hanya soal kata-kata. Melalui materi ini, peserta memahami teknik dasar komunikasi non-verbal, mulai dari ekspresi wajah, postur tubuh, hingga tatapan mata yang meyakinkan.
4. Aturan Mehrabian 3V
Merujuk pada teori Albert Mehrabian, peserta dikenalkan pada rumus 3V: Visual, Vokal, dan Verbal. Mulai dari pengaturan volume suara, intonasi, hingga artikulasi yang jelas. Selain itu, peserta juga diajarkan metode storytelling sederhana agar materi yang disampaikan lebih hidup dan mudah diingat audiens.
Melalui sesi praktik langsung dan bimbingan intensif, para peserta diajak untuk membangun bahasa tubuh yang luwes serta melatih keberanian berbicara satu per satu di depan kelas.
“Kelas ini kami rancang dalam 4 sesi agar peserta benar-benar terasah, bukan sekadar teori. Harapan saya, setelah ini para peserta lebih percaya diri tampil, berani menyampaikan pendapat, dan siap menjadi pribadi yang lebih berdaya,” lanjut Maryanti.
Keberhasilan kelas ini tidak lepas dari peran Beti Aji Pratiwi, S.Pd, selaku Ketua Pojok Hukum KMTH. Dedikasi dan kepemimpinannya menjadi kunci utama kelancaran seluruh rangkaian kegiatan. Di bawah arahannya, program ini tidak hanya berjalan tertib, tetapi juga berhasil menciptakan ruang diskusi yang interaktif, hangat, dan edukatif.
Maryanti juga menuturkan bahwa kelas Public Speaking ini akan dilaksanakan dalam 4 sesi, yang digelar satu bulan sekali. Setelah menyelesaikan seluruh sesi, peserta berhak mendapatkan sertifikat resmi sebagai bukti peningkatan kompetensi dan nilai tambah bagi PMI.
Kelas perdana ini ditutup dengan foto bersama dan semangat baru. Para peserta pulang tidak hanya membawa ilmu, tetapi juga keberanian untuk bersuara.(esti)




