Tausiah

Persiapkan Bekal Sebelum Terlambat

Penulis: Ustad Muhaemin Karim

Nabi (SAW) bersabda:

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum sakitmu, masa kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum masa sibukmu dan masa hidupmu sebelum kematianmu.”
(H.R. Al-Baihaqi no.10248)

Dalam Kitab Daqaiqul Akhbar karya Imam Abdurrahim Al-Qadhi dikisahkan bahwa ketika seseorang berada dalam sakaratul maut, setan datang membawa semangkuk air ke arah kepalanya.

Mangkuk itu digoyangkan di hadapan orang yang sedang dilanda dahaga, lalu setan membujuknya agar mengingkari Tuhan demi mendapatkan seteguk air. Di saat tubuh melemah dan haus terasa begitu menyiksa, datanglah godaan terakhir. Yang tampak seperti persoalan dahaga ternyata digambarkan sebagai ujian iman di penghujung kehidupan.

Setelah ruh berpisah dari jasad, perjalanan manusia memasuki babak yang sama sekali berbeda. Bagi jiwa yang memperoleh rahmat, para malaikat rahmat menyambutnya dengan kemuliaan dan keharuman. Namun, bagi jiwa yang celaka, datanglah malaikat siksa dan ruh diperintahkan keluar menuju murka Allah. Digambarkan betapa berat keluarnya ruh tersebut hingga laknat menyertainya antara langit dan bumi.

Kemudian ruh dikembalikan kepada jasad di alam kubur. Hari demi hari, tubuh yang dahulu dirawat, dihias, dan dibanggakan mulai mengalami kehancuran. Dalam gambaran kitab tersebut, pada hari ketiga darah keluar dari hidung dan mulut. Hari kelima, tubuh mulai mengeluarkan nanah. Hari ketujuh, jasad semakin hancur dan dimakan ulat. Seakan ruh bertanya kepada tubuhnya sendiri: Di mana anak-anakmu?

Di mana keluargamu? Di mana orang-orang yang dahulu selalu berada di sisimu? Di mana tubuh yang dahulu begitu engkau jaga?

Waktu terus berjalan. Harta yang dikumpulkan mulai dibagikan. Orang-orang yang menangis kembali ke kesibukan mereka. Rumah tetap berdiri, dunia tetap ramai, dan kehidupan orang lain terus berjalan—sementara orang yang telah meninggal memasuki perjalanannya sendiri.

Dalam kisah yang disampaikan kitab tersebut, ruh bahkan mengharapkan doa, atau sekadar bacaan Al-Fatihah dari keluarganya. Namun terkadang mereka yang masih hidup telah tenggelam dalam kesibukan dan melupakan orang yang dahulu begitu mereka cintai.

Pesannya terasa sederhana, tetapi menghentak: apa pun yang kita kumpulkan di dunia pada akhirnya akan kita tinggalkan.

Daqaiqul Akhbar menghadirkan gambaran kematian bukan sekadar untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menggugah manusia agar mempersiapkan kehidupan setelahnya sebelum kesempatan itu tertutup. Karena kematian tidak menunggu kita siap. Dan ketika malaikat maut telah datang, tidak ada tombol jeda, tidak ada kesempatan untuk mengulang, dan tidak ada waktu tambahan untuk memperbaiki apa yang telah berlalu. Maka, sebelum napas terakhir tiba, persiapkan bekal selagi masih ada waktu.

Pepatah Arab mengatakan: “Tidak akan pernah kembali hari-hari (waktu) yang telah berlalu.” [Maqalah]

Ini adalah peringatan bagi kita semua, khususnya untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Waktu terus bergulir, umur terus berkurang. Melewatinya secara sia-sia, tak akan dapat terlunasi selamanya. Hari Jumat barangkali akan datang lagi pada minggu-minggu berikutnya, namun Jumat hari ini dan yang sudah lewat tak akan pernah terulang kembali. Itulah mengapa waktu diibaratkan seperti pedang; bila tak pandai menggunakannya ia akan melukai pemiliknya.

Menyadari bahwa waktu tak akan pernah berulang, tidak ada pilihan lain kecuali mengisinya dengan segala hal yang bermanfaat. Hidup ini sejatinya hanya menunggu waktu, sementara kita tidak pernah tahu kapan waktu itu akan tiba. Yang pasti, usia kita terus berkurang terkikis oleh pergantian waktu.

Oleh karena itu, di sisa usia yang diberikan Allah ini marilah kita gunakan sebaik-baiknya dengan amal saleh. Kematian tidak pernah memihak dan berkompromi terhadap usia. Anak-anak, tua, atau muda bila waktunya sudah tiba, kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Rasulullah (SAW) pernah ditanya oleh para sahabat perihal kebaikan dan keburukan manusia: “Siapakah manusia paling baik?” Nabi menjawab: “Orang yang dikaruniai umur panjang dan baik perbuatannya.” Ditanyakan lagi: “Dan siapakah manusia paling jelek?” Nabi menjawab: “Orang yang panjang umurnya dan jelek perbuatannya.”

Dari hadits ini dapat dipahami, bahwa umur yang panjang tidak hanya menjadi nikmat dari Allah (SWT), tetapi juga menjadi penentu kebaikan dan keburukan manusia. Mereka yang dikaruniai umur panjang, kemudian umur tersebut digunakan untuk mengerjakan kebaikan, memperbanyak ibadah, dan terus konsisten dalam ketaatan, maka termasuk dalam golongan manusia paling baik. Pasalnya, mereka telah dikaruniai umur panjang dan berhasil menggunakannya untuk kebaikan.

Begitu juga sebaliknya, orang yang dikaruniai umur panjang oleh Allah namun tidak ada tambahan kebaikan sama sekali dalam hidupnya, justru selalu melakukan keburukan, kemaksiatan, melanggar perintah-perintah Allah, dan tidak pernah menunaikan kewajiban-Nya, maka orang ini termasuk dalam golongan orang-orang yang buruk.

Oleh karena itu, marilah kita jadikan setiap waktu yang terus berlalu ini sebagai momentum untuk merenungi hakikat umur yang telah diberikan oleh Allah (SWT), sebagai bagian dari ikhtiar kita mendekatkan diri kepada Allah.[*]

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Most Voted
Newest Oldest

Artikel Terkait

Lihat Juga Berita Ini :
Close
Back to top button

AdBlock Terdeteksi!

Silahkan matikan / whitelist website ini jika anda menggunakan AdBlock Extension. Iklan dari website ini sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan bisnis kami. Terima Kasih. - Please turn off / whitelist this website if you're using AdBlock Extension. Advertising from this website is vital for the sustainability of our business. Thank You.