
Hong Kong, BI [01/09] – Kepolisian telah mengeluarkan peringatan baru terkait lonjakan tajam kasus penipuan pembajakan akun WhatsApp, sembari menegaskan bahwa penurunan total kerugian finansial baru-baru ini tidak boleh disalahartikan sebagai tanda membaiknya keamanan.
Pihak kepolisian menyatakan telah menangani 1.993 kasus semacam itu antara bulan Januari dan Juli, meningkat 170 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka selama tujuh bulan tersebut telah melampaui total 1.669 kasus pada tahun lalu.
Para korban tahun ini melaporkan total kerugian sebesar HK$146,3 juta. Meskipun angka tersebut turun 22,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, pihak berwenang memperingatkan agar masyarakat tidak lengah.
Sebagian besar korban mengalami kerugian mulai dari beberapa ribu hingga puluhan ribu dolar. Namun, ada pula yang tertipu hingga jutaan dolar, atau bahkan lebih dari HK$10 juta.
Kepala Inspektur Alvin Wong dari Biro Keamanan Siber dan Kejahatan Teknologi mengatakan bahwa para pelaku penipuan mengandalkan trik sederhana.
“Kami menemukan bahwa hal ini tidak berkaitan dengan teknologi baru apa pun yang digunakan oleh penipu; mereka menggunakan teknologi yang sama dengan mengirimkan SMS phishing,” ujarnya.
“WhatsApp memiliki pangsa pasar yang sangat besar di Hong Kong dan umum digunakan oleh warga Hong Kong; itulah sebabnya pembajakan WhatsApp mendominasi kasus pembajakan yang kami tangani.”
Wong menjelaskan bahwa korban biasanya menerima pesan teks yang mengklaim akun mereka akan ditangguhkan atau mengalami masalah, dan mereka harus segera mengambil tindakan atau menghadapi sanksi.
Pengguna yang mengeklik tautan (hyperlink) di dalam pesan tersebut akan membuat akun mereka rentan terhadap penipu, yang kemudian dapat mengakses riwayat obrolan, menyamar sebagai kontak tepercaya, dan akhirnya meminta pembayaran dengan berbagai dalih.
Kepolisian mengimbau masyarakat untuk menghindari akses ke tautan atau kode QR yang mencurigakan, serta tidak membagikan kode verifikasi. Sebelum mentransfer uang, pengguna juga harus memeriksa detail akun penerima dengan cermat dan mewaspadai permintaan dari dompet digital (e-wallet) atau pihak ketiga yang tidak dikenal sebagai tanda bahaya yang serius.
Meta, perusahaan pemilik WhatsApp, menyatakan berkomitmen untuk memerangi penipuan dengan mengerahkan perangkat kecerdasan buatan (AI) guna mendeteksi aktivitas mencurigakan.
Philip Chua, Direktur Kebijakan Produk untuk wilayah Asia-Pasifik di perusahaan tersebut, mengatakan bahwa pembajakan akun merupakan masalah yang sangat serius.
Ia menyebutkan bahwa pelanggaran keamanan ini memungkinkan pelaku kejahatan mengumpulkan informasi pribadi dan membobol lebih banyak akun, sehingga membuka jalan bagi “potensi aktivitas kriminal lebih lanjut di masa mendatang”. Chua menegaskan bahwa taktik para pelaku penipuan akan terus berkembang, namun pesan utamanya bagi pengguna sangat sederhana: tetaplah waspada, pertimbangkan masak-masak, dan lakukan verifikasi ulang melalui platform lain sebelum mengambil tindakan apa pun.[Bi]




