
Jakarta, BI [20/06] – Sebagian besar orang tahu bahwa melindungi kesehatan ginjal melibatkan pengurangan asupan garam dan gula. Namun, seorang dokter memperingatkan bahwa di balik banyak aroma menyenangkan yang umum terdapat senyawa organik volatil, ftalat (plasticizer), fiksatif, dan partikel debu (PM2.5). Ia mencantumkan 5 jebakan aroma umum dalam kehidupan sehari-hari yang berpotensi merusak kesehatan ginjal jika sering dihirup.
1. Parfum Murah
Sebuah studi tahun 2021 yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research menunjukkan bahwa parfum dan kosmetik yang tersedia secara komersial sering mengandung ftalat (seperti DEP) untuk mengunci aroma. Zat-zat ini tidak hanya mengganggu sistem endokrin tetapi juga sangat rentan menyebabkan kerusakan pada tubulus ginjal ketika metabolitnya dikeluarkan melalui urin.
2. Deterjen dan Pelembut Pakaian Tahan Lama
Kemampuan pakaian untuk mempertahankan aroma selama berhari-hari seringkali bergantung pada fiksatif kimia. Penelitian dari Universitas Washington yang diterbitkan dalam Air Quality, Atmosphere & Health mendeteksi berbagai senyawa beracun volatil, termasuk aldehida, dalam udara buangan dari pengering yang diberi pewangi produk deterjen. Menghirup pewangi buatan dalam jangka panjang dapat memicu peradangan kronis dalam tubuh, sehingga meningkatkan beban metabolisme pada ginjal.
3. Pengharum Ruangan Mobil atau Kamar Mandi
Di ruang tertutup seperti mobil atau kamar mandi, konsentrasi racun dari pengharum ruangan cenderung paling tinggi. Penelitian dari Universitas California, Berkeley, mengkonfirmasi bahwa banyak pengharum ruangan dalam ruangan mengandung sejumlah besar terpen. Ketika terpen bereaksi dengan ozon di udara, mereka menghasilkan partikel ultrahalus dan formaldehida. Paparan jangka panjang terhadap lingkungan ini tidak hanya membahayakan saluran pernapasan tetapi juga memiliki toksisitas hati dan ginjal yang signifikan.
4. Dupa (Joss Sticks) dan Kayu Cendana
Banyak orang berpikir “alami” adalah yang terbaik, tetapi itu belum tentu benar. Sebuah studi tindak lanjut jangka panjang yang diterbitkan dalam jurnal Environment International menemukan bahwa pembakaran dupa dan gaharu melepaskan konsentrasi tinggi PM2.5, hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), dan logam berat.
Partikel-partikel ini masuk ke aliran darah melalui alveoli, berkontribusi pada pengerasan pembuluh darah dan secara tidak langsung menyebabkan penurunan fungsi ginjal.
5. Asap Dapur / Asap Minyak Goreng
Aroma menggoda dari penggorengan atau pemanggangan suhu tinggi sebenarnya merupakan produk degradasi minyak pada suhu tinggi. Menurut jurnal Occupational & Environmental Medicine, asap dapur kaya akan PAH. Baik tertelan maupun terhirup, zat-zat ini menyebabkan stres oksidatif yang parah dalam tubuh dan merupakan pembunuh tersembunyi yang berkontribusi pada penyakit ginjal kronis.[*]




