Hong Kong

Warga Hong Kong Rugi $1 Juta Ditipu Layanan Pelanggan Palsu

Hong Kong, BI [28/08] – Seorang korban di Hong Kong kehilangan lebih dari HK$1 juta dalam sebuah penipuan canggih setelah pelaku menipu korban agar mengubah ponsel pintar mereka menjadi terminal pembayaran elektronik untuk melakukan transaksi kartu kredit luar negeri tanpa izin.

Polisi mengeluarkan peringatan mendesak agar masyarakat tetap waspada jika ada pihak yang mengaku sebagai perwakilan layanan pelanggan meminta mereka mengunduh aplikasi yang tidak dikenal, mengaktifkan fitur berbagi layar (screen sharing), atau menempelkan kartu kredit fisik ke ponsel untuk memproses pengembalian dana.

Berdasarkan informasi yang dibagikan polisi di platform CyberDefender, penipuan bermula ketika korban menerima panggilan telepon dari pelaku yang menyamar sebagai karyawan perusahaan jasa pengiriman.

Penelepon tersebut mengklaim secara palsu bahwa paket milik korban rusak saat pengiriman dan mengarahkan korban untuk beralih ke WhatsApp guna menghubungi layanan pelanggan dan mengurus kompensasi.

Perwakilan layanan pelanggan gadungan itu awalnya meminta korban memberikan kode QR pembayaran untuk menerima dana, namun kemudian menyatakan bahwa kode tersebut tidak valid.

Agar terlihat meyakinkan, pelaku menyatakan bahwa perusahaan logistik tersebut memiliki perlindungan asuransi dan mengirimkan tautan asing yang mengarahkan korban untuk mengajukan kompensasi melalui situs web palsu.

Korban tertipu untuk melunasi tagihan kartu kredit sebelum pelaku menghilang Setelah mengakses situs web palsu tersebut, korban diminta memberikan data pribadi serta empat digit terakhir nomor telepon mereka.

Pelaku kemudian mengirimkan dokumen persetujuan kompensasi palsu yang menyatakan bahwa pengembalian dana siap diproses. Agen layanan pelanggan gadungan itu menginstruksikan korban untuk mengunduh dan memasang berkas paket Android (APK) yang tidak dikenal guna menerima uang tersebut.

Setelah aplikasi terpasang, pelaku meminta korban mengaktifkan fitur Near Field Communication (NFC) di ponsel dan menempelkan kartu kredit dengan erat ke bagian belakang perangkat.

Hal ini memungkinkan perangkat lunak berbahaya tersebut membaca data kartu dan mengubah ponsel pintar menjadi terminal pembayaran (point-of-sale), sehingga pelaku dapat melakukan transaksi luar negeri tanpa izin dari jarak jauh secara diam-diam.

Saat batas kredit kartu kredit habis terpakai, pelaku membujuk korban untuk segera melunasi tagihan, dengan janji bahwa seluruh dana akan diganti sekaligus di kemudian hari.

Setelah korban melunasi tagihan, pelaku kembali melakukan transaksi luar negeri tanpa izin hingga batas kredit habis untuk kedua kalinya. Para penipu kemudian memutus segala komunikasi, meninggalkan korban dengan kerugian finansial yang melebihi HK$1 juta.[BI]

 

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Most Voted
Newest Oldest

Artikel Terkait

Back to top button

AdBlock Terdeteksi!

Silahkan matikan / whitelist website ini jika anda menggunakan AdBlock Extension. Iklan dari website ini sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan bisnis kami. Terima Kasih. - Please turn off / whitelist this website if you're using AdBlock Extension. Advertising from this website is vital for the sustainability of our business. Thank You.