Kesehatan

Abu Vulkanik Berbahaya Untuk Kesehatan Jantung

Simak penjelasan dokter ahli jantung berikut ini:

Jakarta, BI [08/09] – Dr. dr. Faris Basalamah, Sp.JP(K), Consultant Cardiologist, Interventional Cardiologist and Interventional Electrophysiologist Heartology Cardiovascular Hospital, menjelaskan abu vulkanik dapat mengandung partikel sangat kecil berukuran kurang dari 2,5 mikrometer (PM2,5), fragmen silikon, hingga gas sulfur dioksida (SO2).

Menurut dr. Faris, partikel tersebut dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan selanjutnya memicu respons peradangan yang berdampak pada sistem kardiovaskular.

“Debu vulkanik ini masuk ke alveoli sehingga masuk ke dalam sirkulasi darah dan memicu pelepasan zat sitokin pro-inflamasi yang kemudian menyebabkan kerusakan membran dan peradangan dari pembuluh darah kita,” ujarnya kepada wartawan, Senin (7/9).

Menurutnya, ada sejumlah risiko terhadap jantung yang perlu diwaspadai selama terjadi paparan abu vulkanik. Berikut lima di antaranya:

1. Memicu peradangan pembuluh darah

Paparan abu dapat memicu peradangan pada lapisan pembuluh darah. dr. Faris menerangkan, kondisi ini terjadi ketika partikel yang terhirup masuk ke bagian dalam paru-paru dan dapat memicu respons inflamasi dalam tubuh.

Peradangan tersebut dapat mengganggu fungsi pembuluh darah dan meningkatkan risiko terjadinya masalah kardiovaskular, terutama pada orang yang sebelumnya sudah memiliki faktor risiko penyakit jantung.

2. Meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke

dr. Faris mengingatkan, orang dengan penyakit jantung koroner perlu lebih waspada. Peradangan yang dipicu paparan abu vulkanik dapat menyebabkan robeknya plak yang sudah terbentuk di dalam pembuluh darah.

Kondisi tersebut dapat memicu terbentuknya sumbatan dan berujung pada serangan jantung. Jika proses tersebut terjadi pada pembuluh darah otak, risikonya dapat berupa stroke.

“Sering kali ada beberapa penelitian, terutama yang saya baca adalah di Hawaii, pada waktu terjadinya erupsi itu terjadi peningkatan kejadian infark miokard dan stroke,” jelasnya.

3. Tekanan darah bisa meningkat

Paparan abu vulkanik juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah dalam jangka pendek. Menurut dr. Faris, kondisi tersebut berkaitan dengan respons saraf simpatis setelah seseorang menghirup debu.

Respons tersebut pada akhirnya dapat menyebabkan vasokonstriksi, yaitu penyempitan pembuluh darah. Akibatnya, tekanan darah dapat meningkat.

Karena itu, orang yang sudah memiliki tekanan darah tinggi maupun penyakit kardiovaskular sebaiknya lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk akibat abu vulkanik.

4. Memicu gangguan irama jantung

Risiko lain dari paparan abu vulkanik adalah gangguan irama jantung atau aritmia. dr. Faris menyebut kondisi tersebut dapat berkaitan dengan dampak toksik langsung dari partikel ultrahalus serta stres fisik akibat gangguan pernapasan akut.

Gangguan tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi sistem konduksi listrik jantung. Karena itu, paparan abu vulkanik bukan sekadar persoalan batuk atau iritasi saluran pernapasan, tetapi juga perlu diperhatikan dari sisi kesehatan jantung.

5. Kurangi paparan, gunakan masker yang tepat

Dengan berbagai resiko itu, dr. Faris menyarankan masyarakat sebisa mungkin tidak keluar rumah jika tidak memiliki keperluan mendesak ketika terjadi sebaran abu vulkanik.

“Kalau memang tidak perlu, sebaiknya tidak keluar rumah,” katanya.

Namun, jika harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat dianjurkan menggunakan masker yang mampu menyaring partikel berukuran sangat kecil.

dr. Faris secara khusus menyarankan penggunaan masker KN95 karena dinilai dapat membantu mencegah masuknya partikel berukuran di bawah 2,5 mikrometer.

Selain berdampak pada jantung, abu vulkanik juga dapat mengganggu berbagai organ lain. Pada saluran pernapasan, paparan dapat menyebabkan batuk, dahak berlebihan, tenggorokan gatal, suara serak, hingga memicu asma.

Dalam jangka panjang, paparan tertentu juga dapat berkontribusi terhadap silikosis yang menyebabkan jaringan parut atau fibrosis pada paru-paru.

Abu vulkanik juga dapat mengiritasi mata dan kulit. Partikel debu yang masuk ke mata bahkan berisiko menggores atau merusak kornea, terutama jika mata digosok saat terdapat partikel debu.[JP]

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Most Voted
Newest Oldest

Artikel Terkait

Back to top button

AdBlock Terdeteksi!

Silahkan matikan / whitelist website ini jika anda menggunakan AdBlock Extension. Iklan dari website ini sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan bisnis kami. Terima Kasih. - Please turn off / whitelist this website if you're using AdBlock Extension. Advertising from this website is vital for the sustainability of our business. Thank You.