
Korban Tewas Akibat Banjir Di Nepal Terus Bertambah Hingga 1.010 Jiwa
Kathmandu, BI [01/09] – Seminggu setelah tanah longsor dan banjir dahsyat melanda wilayah perbatasan Nepal-Tiongkok pada 26 Agustus, pihak berwenang menyatakan bahwa total korban tewas telah mencapai 1.026 jiwa, sementara ribuan orang masih dinyatakan hilang saat upaya penyelamatan merambah lebih jauh ke lembah-lembah yang hancur.
Otoritas Nasional Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nepal pada hari Selasa mengonfirmasi 1.010 korban jiwa dan merevisi jumlah orang hilang menjadi 3.925 jiwa. Jika digabungkan dengan data awal dari Tiongkok untuk wilayah Shigatse di Tibet—16 tewas dan 546 hilang—kedua negara kini mencatat total 1.026 kematian dan 4.471 orang yang belum ditemukan; angka ini menunjukkan penurunan sekitar 300 orang dari perkiraan sebelumnya.
Penilaian berbasis satelit dari Copernicus Climate Change Service menunjukkan setidaknya 2.500 bangunan hancur, yang mencakup sekitar dua pertiga dari seluruh bangunan di tiga zona terdampak parah yang disurvei. Jika bangunan yang rusak sebagian turut diperhitungkan, proporsi bangunan yang terdampak melampaui tujuh puluh persen; hal ini menegaskan betapa dahsyatnya terjangan air bah yang menyapu koridor sungai.
Para ilmuwan yang melakukan analisis awal meyakini bencana ini mungkin berkaitan dengan runtuhnya bagian gletser Langtang Lirung, seraya memperingatkan bahwa peristiwa ini mungkin bukan kejadian yang berdiri sendiri. Akibat pemanasan global yang mempercepat pencairan gletser dan membuat medan pegunungan menjadi tidak stabil, bahaya serupa dapat terjadi lebih sering.
Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 15 juta orang di seluruh dunia tinggal di daerah yang berisiko mengalami banjir akibat gletser, dengan lebih dari separuhnya berada di India, Pakistan, Peru, dan Tiongkok.
Pada hari Senin, 31 Agustus, tim tanggap darurat Tiongkok memasang jalur evakuasi darurat berupa tangga tali di lokasi pembersihan jalan. Jalur ini menghubungkan beberapa titik perlindungan guna meningkatkan keselamatan para pekerja yang menghadapi ancaman banjir bandang dan tanah longsor yang datang tiba-tiba.
Liputan media pemerintah di Pelabuhan Gyirong memperlihatkan bekas dampak aliran material (debris flow) yang mencapai ketinggian hingga 60 meter. Area parkir kendaraan dan bangunan di sebelahnya tersapu bersih, sementara asrama staf tertimbun oleh bongkahan batu besar dan lumpur.
Dari seluruh bangunan di titik perlintasan tersebut, hanya sebuah menara air yang berdiri lebih dari 20 meter di atas permukaan tanah yang masih bertahan, meskipun mengalami kerusakan yang terlihat jelas.
Operasi udara terus berlangsung hingga hari Senin; helikopter dikerahkan untuk menurunkan tim penyelamat khusus serta mengangkut pasokan ke wilayah-wilayah yang terisolasi. Kondisi medan tetap berbahaya: bongkahan batu besar menjulang di atas para petugas pemadam kebakaran, sementara lumpur yang dalam dan lengket menghambat pergerakan.
Penilaian awal lokasi menunjukkan adanya lapisan sedimen lunak dengan kedalaman mencapai sekitar satu meter, serta banyaknya kendaraan dan puing bangunan yang terkubur di bawah lumpur dan kerikil. Tim pencari menggunakan anjing pelacak dan perangkat pendeteksi tanda-tanda kehidupan untuk melacak korban hilang; suasana sempat hening saat sebuah kereta bayi yang hancur ditemukan di tengah reruntuhan.
Tiongkok menyatakan bahwa gelombang kedua bantuan untuk Nepal dijadwalkan berangkat pada hari Selasa, mencakup pesawat nirawak (drone), peralatan serta reagen tes DNA, unit penjernih air, dan perlengkapan penerangan; selain itu, spesialis forensik Tiongkok akan dikerahkan ke lokasi bencana untuk mendukung upaya identifikasi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok menambahkan bahwa kedua belah pihak telah menjalin kerja sama erat di bidang meteorologi, sumber daya air, dan pengurangan risiko bencana, serta saling berbagi informasi untuk mencegah bencana susulan sembari bertukar data hidrologi, melakukan konsultasi ahli, dan mengeluarkan peringatan terkait.
Mengingat akses ke sebagian wilayah yang terdampak paling parah masih terputus, pihak berwenang di kedua sisi perbatasan memprioritaskan operasi penyelamatan nyawa, pendataan korban hilang, dan pemulihan jalur penghubung vital.
Para pejabat memperingatkan bahwa ketidakstabilan pada gletser di sekitarnya mungkin masih akan berlanjut, sehingga diperlukan sumber daya berkelanjutan untuk upaya pencarian, pemulihan, dan perlindungan bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang lembah Himalaya yang rentan.[BI]




